Peristiwa

DBHCHT di Dinindagkop UKM Rembang fokus 4 Kegiatan

REMBANG,mediatajam.com  – Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang dikelola oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dinindagkop UKM) Kabupaten Rembang sebesar Rp. 225 Juta di tahun 2019 menyasar di 4 jenis kegiatan.

Di mana kegiatan itu difokuskan untuk pengembangan usaha kecil menengah yang memang sudah dijalani maupun untuk menumbuhkan bibit usaha oleh pengusaha kecil.

Tak ayal dari dana itu, Dinindagkop UKM Rembang memberikan pelatihan usaha. Di antaranya yakni di bidang industri meubelair, industri konveksi, industri makanan olahan serta industri kulit / imitasi

Hanya saja, dari keempat jenis kegiatan itu, yang sudah terlaksana baru 3 jenis kegiatan. Sedangkan yang satu kegiatan lainnya yankni industri kulit / imitasi direncanakan bakal digelar pada bulan November 2019 mendatang.
Saat ditemui wartawan pada Selasa (1/10/2019) pagi di kantornya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM melalui Kabid Perindustrian Susy Chandrayani mengungkapkan bahwa kegiatan yang sudah dijalankan saat ini baru 3 jenis.
Sedangkan yang pengolahan kesenian kulit akan direncanakan pada November 2019 mendatang.

“Di tahun 2019 ini Bidang Perindustrian Dinindakop UKM Rembang mendapatkan alokasi DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) senilai Rp. 225 juta. Dana itu terfokus di 4 jenis kegiatan,” kata Susy

Pihaknya merinci, 4 jenis kegiatan itu diikuti oleh sekitar 105 peserta industri kecil menengah (IKM) yang ada di Rembang. Dari ratusan peserta tersebut masih terbagi lagi di setiap kelompoknya di bidang pelatihian masing-masing. Yakni untuk satu kegiatannya diikuti sekitar 20 – 30an peserta.

“Setiap kegiatan ya ada yang 20 peserta, 25 dan 30an peserta IKM yang ada di Rembang,”ucapnya.

Dari data yang dihimpun wartawan, keempat jenis kegiatan itu ialah Pelatihan dan Pengembangan Industri Meubelair dilaksanakan pada bulan April 2019, Pelatihan dan Pengembangan Industri Konveksi digelar pada Juni 2019, Pelatihan dan Pengembangan Industri makanan Olahan pada September 2019 dan yang terakhir yakni Pelatihan dan Pengembangan Industri Kulit / Imitasi direncanakan pada November 2019 mendatang.

“Untuk Industri Meubelair diikuti sebanyak 30 IKM, Industri Konveksi diikuti sebanyak 30 IKM dan Industri makanan olahan diikuti sebanyak 25 IKM. Hanya saja untuk industri Kulit / Imitasi baru akan digelar pada November 2019 yang akan datang,” ujarnya.

Rincian anggaran kegiatan
Untuk setiap pagu anggarannya, pihak Dinindagkop UKM Rembang mengalokasikan atau menganggarkan biaya yang berbeda- beda. Mulai dari besaran Rp. 50 hingga Rp. 75an juta di setiap kegiatan yang sudah dijalankan maupun yang masih dalam perencanaan di tahun
2019 ini.

Pertama Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Makanan Olahan)
Rp. 50.000.000,- (Pelatihan dan Pengembangan Industri Makanan Olahan) sebanyak 25 IKM
Digelar pada September 2019

Kedua Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Konveksi) Rp. 50.000.000,- (Pelatihan dan Pengembangan Industri Konveksi) sebanyak 30 IKM Digelar pada Juni 2019

Ketiga Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Meubelair)
Rp. 75.000.000,- (Pelatihan dan Pengembangan Industri Meubelair) sebanyak 30 IKM
Digelar pada April 2019

Keempat Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Kulit / Imitasi)
Rp. 50.000.000,- (Pelatihan dan Pengembangan Industri Kulit / Imitasi) sebanyak 20 IKM
Direncanakan pada Bulan November 2019 Mendatang
Jumlah Rp. 225.000.000,-
105 IKM

Dari empat kegiatan itu, baik yang sudah dijalankan maupun yang masih direncanakan, pihak Dinindagkop UKM Rembang tak mematok apakah peserta itu sudah mempunyai usaha atau memang baru merintis usaha kecil.
Hanya saja, setiap peserta diharapkan dapat memanfaatkan semua ilmu dan pengetahuan yang memang sudah diberikan saat pelatihan dan pengembangan industri kecil dari alokasi DBHCHT yang setiap kegitannya memakan waktu sekitar 3 – 4 hari.

“Kita (Dinindakop UKM Rembang) biasanya akan mengambil peserta yang sudah melakukan kegiatan usaha. Akan tetapi kita juga tidak mematok (mentarget) berapa lama usaha yang digelutinya itu,”bebernya.

Di suatu sisi, pihaknya juga tidak serta merta menutup kemungkinan untuk bisa mengikutkan peserta pelatihan yang memang ingin menumbuhkan dan mengembangkan usaha baru.

“Kita juga tak serta merta menutup kemungkinan bagi peserta pelatihan yang ingin menumbhuhkan wirausaha baru. Misalkan di Lasem ada konveksi, maka tetangganya yang ikut juga boleh sebagai peserta pelatihan itu. Sehingga dari semua kegiatan usaha itu bisa menjadi efek menular untuk dipadupadankan dengan usaha yang telah berjalan,”paparnya.

Tak sampai di situ saja, Susy juga mengutarakan bahwa peserta yang sudah pernah mengikuti pelatihan atau pembinaan industri ini juga bisa ikut kembali supaya bisa menambah pengalaman yang maksimal.

“Yang kemarin (tahun lalu) yang sudah ikut pelatihan juga boleh ikuti pelatihan ini. Pada initnya memang kita tetap melakukan pembinaan usaha yang sudah berjalan dan kalau bisa untuk menumbuhkan usaha baru seusai kegiatan ini dijalankan oleh dinindakop UKM Rembang ini,”ungkap dia.

Sementara itu, untuk mengikutsertakan para peserta, pihak dinas juga berkoordinasi dengan kepala desa atau kelurahan supaya bisa menginformasikan kepada masyarakatnya.

“Ya kita serahkan kepada kepala desa supaya bisa mendata atau menginformasikan kepada masyarakatnya yang memang berminat untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan usaha atau industri kecil menengah ini,”paparnya.

Kemudian untuk memberikan rasa perhatian kepada pelakun usaha yang memang sudah terbentuk dari kegiatan ini, pihak dinas juga akan selalu memantau dan mendata di setiap usaha. Sehingga pemantauan itu secara tak langsung bisa dijadikan sebagai penyemangat dan konsultasi terkait perkembangan usaha di masa mendatang.

“Untuk mengontrol setelah pelatihan, itu tentunya dilakukan secara rutin ke lapangan cek. Kita secara bergilir dan dadakan kepada pelaku usaha. Misalkan giliran ke kecamatan ini dan sini ya seperti itu,”urainya.

Di sisi lain, ia juga mengimbau kepada pelaku usaha yang sudah melakukan pelatihan, nantinya bisa lebih memperhatikan kualitas produknya. Misalkan saja, industri makanan olahan. Supaya di saat ada orderan, maka pelaku usaha itu bisa memberikan menu yang bervariasi sehingga pelanggan juga akan bisa dilayani dengan puas.
Pelatihan industri makanan olahan September 2019 lalu

“Manfaat yang sudah dinikmati, misalkan saja membuat kue kecil – kecilan di desa dalam bentuk catering atau pesanan snak – snak rapat maka kita harapkan mereka juga ikut serta disertifikasi produk supaya bisa lebih dipercaya. Selain itu juga harus bisa memberikan varian menu lainnya,”imbaunya.

Perbandingan nominal DBHCHT tahun 2018 dengan 2019.
Kemudian saat disingg mengenai perbandingan alokasi DBHCHT tahun 2019 dengan tahun sebelumnya yang diterima Dinindagkop UKM Rembang, ia menjabarkan jika di tahun ini anggaran tersebut memang ada rasionalisasi yang memang cukup signifikan.

“Dana DBHCHT tahun ini (2019) dibanding tahun lalu (2018), memang ada penurunan. Jika di tahun kemarin (2018) sekitaran kurang lebih Rp. 350an juta. Sedangkan tahun 2019 kita mendapatkan Rp. 225 juta untuk Bidang Perindustrian. Sebab kemarin Bidang Perdagangan tak mengajukan promosi melalui DBHCHT. Sehingga dialokasikan dari DAU ,”akunya.

Dari data yang dihimpun, dapat dibandingkan jika tahun sebelumnya alokasi DBHCHT di Dinindakop UKM Rembang dapat menyasar di dua bidang. Yakni Bidang Perindustrian dan Bidang Perdagangan. Sedangkan di tahun 2019, DBHCHT hanya menyasar kegiatan di Bidang Perindustrian saja.

Bidang Perindustrian
pelatihan industri rumahan berbahan baku kedelai
Bidang Perindustrian
Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Makanan Olahan)

Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan Kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghansil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Konveksi)

Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan Kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan pengembangan Industri Meubelair)

Pembinaan Kemampuan dan Keterampilan Kerja Masyarakat di Lingkungan IHT dan Daerah Penghasil Bahan Baku IHT (Pelatihan dan Pengembangan Industri Kulit / Imitasi)

Bidang Perdagangan
Kegiatan pameran Inacraft di jakarta pada bulan April lalu. Lebih tepatnya pada tanggal 25 hingga 29. Kegiatan di Warlami (Warna Alam Indonesia) di musium textil pada tanggal 1 hingga 4 Mei 2018.
Kegiatan pameran di Dandangan Kudus sebelum puasa.

Dinindagkop – UKM Rembang Berharap DBHCHT Dapat Ditingkatkan

Melihat dari aspek kegiatan itu, pihaknya juga berharap nantinya alokasi DBHCHT yang dikucurkan untuk Dinindagkop UKM Rembang dapat ditambah. Mengingat dana tersebut memang diperuntukan untuk mengembangkan usaha kecil yang ada di Rembang.

“Ya terkiat angaran, kita harapkan ada peningkatan. Selain itu, kita juga berharap bisa diberikan kendaraan dinas dari DBHCHT. Sebab nantinya juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan peninjauan atau pemantauan usaha yang memang sudah difasilitasi dengan pelatihan ini,”harapnya.
Dengan adanya berbagai pelatihan yang digelar oleh Dinindagkop UKM serta sokongan dari DBHCHT inilah pihaknya mengimbau kepada pelaku usaha supaya ke depannya bisa selalu berinovasi yang lebih baik lagi. Terlbih bisa mmberikan ilmunya kepada sesama pelaku usaha.
“Dalam kegiatan ini (pelatihan) kita menggandengn alumni peserta pelatihan. Sehingga nantinya alumni itupun bisa saling memberikan motivasi, menularkan ilmu serta pengalamannya untuk sama sama mengembangkan usahanya di masa mendatang,”ungkapnya.

Dia menambahkan, kegiatan yang sudah dijalankan dan diikuti peserta ini tentunya sangat bermanfaat sekali. Khususnya bagi warga atau masyarakat yang memang ingin membuka usaha baru.

“Tidak menutup kemungkinan memang dengan mengikuti kegiatan pelatihan usaha atau industri ini, bisa menimbulkan bibit usaha baru. Atau pelaku usaha baru yang memang sebelumnya belum menekuni usaha kecil menengan tersebut,”pungkasnya.(San)