Tajam News

Komunitas Pandawa Rembang Salurkan Bantuan Air Bersih

REMBANG,Mediatajam. Com – Musim kemarau yang melanda di wilayah Kabupaten Rembang beberapa bulan terakhir ini membuat sumber sumber mata air disebagian wilayah menjadi kering .
Akibat kondisi itu wargapun kesulitan mendapatkan air bersih .

Sebagai bentuk kepedulian atas kondisi tersebut komunitas Panther Dampo Awang atau (Pandawa) Rembang memberikan bantuan air bersih , bantuan air bersih untuk ratusan warga di delapan desa yang mengalami kekeringan itu disalurkan mulai hari Kamis (13/9)

Dua dari delapan desa yang mengalami kekeringan itu seperti Desa Banggi dan Kuangsan Kecamatan Kaliori. Untuk setiap desa Pandawa memberikan bantuan air bersih sebanyak
1 tangki

Kepala Desa Kuangsan Tarmuji mengaku, warganya sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan oleh komunitas Pandawa. Pasalnya sudah dua bulan warga RT 2 RW 2 mengalami krisis air hingga harus mengambil air dari wilayah RT lain tapi masih satu desa.

“Kekeringan sudah dua bulanan lebih masyarakat diwilayah sini RT 2 RW 2 agak kesulitan air. Kalau cari air harus menuju Kuangsan sebelah timur. Tidak setiap tahun, ini kemarau ini kan panjang kemarau ini kan enam bulan jadi sebagian mengalami kekeringan. Mereka harus ngangsu keluar daerah untuk mendapatkan air, tapi masih satu desa.” jelasnya.

Meski ada warga yang mulai kekurangan air, namun pihak desa belum mengajukan bantuan ke Pemkab Rembang. Pasalnya kondisi tersebut dinilai belum terlalu parah karena hanya sebagian saja yang terdampak kekeringan.

Sementara itu koordinator Bansos komunitas Pandawa Anam Edi Susilo mengatakan, selain Desa Banggi, dan Kuangsan, ada 6 desa lain yang akan menjadi sasaran pengedropan air bersih. Bantuan yang diberikan merupakan hasil iuran sukarela dari anggota komunitas Panther Dampo Awang, yang jumlahnya 54 orang.

“Untuk hari ini tepatnya ada dua desa, yaitu Desa Kuangsan dan Banggi Kecamatan Kaliori. Untuk Kecamatan Sulang meliputi Pondok Kemadu, Desa Kaliombo dan Bogorame, untuk Kecamatan Bulu, dan Kecamatan Sarang.” pungkasnya. (Hasan Yahya)