Tajam News

Panggil TKSK Sarang , Polres Rembang Mulai Lakukan Penyelidikan Dugaan Penyimpangan BPNT Desa Banowan

REMBANG ,nediatajam.com – Polres Rembang mulai melakukan penyelidikan terkait kasus dugaan penyimpangan penyaluran program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Desa Banowan Kecamatan Sarang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun mediatajam.com penyelidikan dugaan kasus itu diketahui setelah penyidik Polres Rembang melayangkan surat pemanggilan terhadap Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan
(TKSK ) Kecamatan Sarang Zaenal Arifin dan Sekretaris Desa Banowan Zaenuri.

Kasat Reskrim Polres Rembang
AKP Bambang Sugito melalui Kanit 3 Ipda Widodo Eko Prasetyo SH saat dikonfirmasi melalui pesan whatsapp membenarkan adanya pemanggilan tersebut

” Ya benar mas , kami telah memanggil Sekretaris Desa Banowan dan TKSK Kecamatan Sarang , keduanya kami panggil untuk dimintai sejumlah keteranganya terkait dugaan penyimpangan penyaluran program
BPNT di Desa Banowan .
Minggu depan kami juga akan memanggil pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Rembang.
.”ungkapnya secara singkat

Sebelumnya seperti diberitakan
Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Banowan Kecamatan Sarang disoal .
Pasalnya , oknum penyalur dalam program bantuan tersebut diduga melakukan pencairan BPNT untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sudah meninggal dunia.

Atas dugaan penyalahgunaan itu keluarga Penerima Manfaat BPNT
di desa tersebut merasa geram.
Terlebih lagi oknum itu juga diduga memanfaatkan data KPM yang sudah lama meninggal dunia untuk didata kembali.
Bahkan menurut warga, KPM yang sudah meninggal itu terdata selama satu tahun lamanya. Tak ayal, dari pihak KPM yang berada di Desa Banowan Kecamatan Sarang pun menginginkan ada pergantian penyalur .

Saat diklarifikasi atas permasalahan penyaluran BPNT di Banowan, Kecamatan Sarang, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Sosial Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Rembang Nasaton Rofiq di ruang kerjanya, Jumat (29/5/2020) siang mengakui jika penyalur program BPNT yang ada di desa tersebut merupakan bukan yang ditunjuk oleh Pemdes setempat.
Nasaton mengutarakan bahwa y dijalankan Rifai itu menurut BNI sudah memenuhi prasyarat yang baik.

“Kasus yang di Banowan itu ada 2 versi makanya saya rada pusing. Gini ceritanya setelah saya buka data awal. Yang diusulkan oleh Kades (Pemdes) untuk E Warong itu Arif. Nah, ketika suplier (bahan pokok, red) saat ngedrop itu justru (salah tempat) yakni ke Rifai,”jelas dia menjabarkan.

Anehnya, kekeliruan ngedrop barang sembako itu sudah berjalan hampir 1.5 tahun. Bahkan Dinas terkait pun tak begitu tahu menahu soal itu.

“Itu sudah jalan satu setengah tahun lebih. Memang saya tak bisa mantau secara maksimal. Setelah tahu, saya langsung marah betul ke TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan). Dan mengapa kok masih dipakai (toko Rifai) itu,”tanya dia ke TKSK sambil menjabarkan kasus itu ke media.

Setelah berjalannya waktu, penyaluran yang dijalankan oleh Rifai itu dinilai bisa nyaman dengan pekerjaan itu.

“Si Rifai enjoy dengan pekerjaan penyaluran , transaksi memenuhi sayarat, pihak BNI juga ngasih reward. Namun, ranah saya hanya mengimbau supaya mereka tak macam-macam dengan KPM. Sebab KPM adalah raja,”ucapnya.

Saat permasalahan itu muncul, kini yang semula penyalur Rifai Banowan tersebut diberhentikan aktivitasnya untuk melayani KPM secara sementara dan dialihkan di Babak Tulung atau desa tetangga.

“Sekarang saya alihkan ke Babak Tulung, sekarang sementara vakum, sudah ditangani satgas desa. Intinya, saya tak bisa intervensi ke BNI terkait penilaiannya ke Rifai itu seperti apa,”akunya.(san)