Tajam News

Pasrah Bila Diproses Hukum , Penyalur BPNT Desa Banowan Sarang Akui Kesalahan

REMBANG,mediatajam com – Komisi II DPRD Rembang menggelar inspeksi mendadak ke Toko Penyalur program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang ada di Desa Banowan Kecamatan Sarang (Kamis (4/6/2020) siang.

Sidak wakil rakyat dari Komisi bidang ekonomi itu dilakukan untuk menindaklanjuti aduan dari masyarakat .
Terkait , adanya penyalur Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang tidak sesuai dengan warung yang ditunjuk desa.

Sebab sesuai petunjuk Pemdes, harusnya warung yang dijadikan penyalur BPNT didesa tersebut ialah milik M. Arif Karang Tengah Banowan.

Namun setelah dikroscek ke lapangan warung yang dijadikan penyaluran ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yakni milik Rifai warga RT 11 RW 3 Banowan.
Titik terang itu terkuak saat toko atau warung tersebut disidak oleh anggota DPRD Rembang dari Komisi II, Forkopimcam, Kapolsek Sarang, TNI

Pantauan media di lapangan, bahkan toko milik Rifai itu bertuliskan nama Arif.
Salah satu tetangga yang berada di kawasan RT 11 RW 3 Banowan yang enggan disebutkan namanya juga membenarkan akan hal itu.

“Warung niku (yang disidak, red) gene Pak Rifai-Ibu Sukaenah. Ya sebenere (yang dijadikan tempat membeli, KPM) gene M. Arif Dukuh Karang Tengah-Banowan,”kata RK (inisial) dalam bahasa Jawanya.

Ia menduga, dijadikannya warung milik Rifai itu untuk penyaluran BPNT ke KPM itu lantaran salah ngedrop sembako.

“Mungkin njeh salah dokok’ke sembako. Sebab sing bener yo warunge Pak Ngarip, (Arif),”ucapnya.

Sementara tetangga lainnya yang berinisial SN juga menyadari bahwa hal itu terdapat kekeliruan oleh instansi yang ada.

“Janjane ya isa dipindah (ke M. Arif/warung yang ditunjuk desa). Tapi niku njeh tergantung kepala desone. Soale kan semestine wis ono petunjuk’e saking deso,”ucap SN melengkapi.
Akan tetapi dari Sidak jajaran Forkopimcam, Anggota DPRD Komisi II, Kapolsek, TNI dan lainnya tidak ketemu dengan pemilik warung Rifai. Di rumah hanya ada dua wanita yang duduk di ruang tamu.

Zaenuri Sekdes Banowan mengutarakan bahwa kesalahan pengedropan barang yang semula di M. Arif sesuai petunjuk desa namun ke warungnya Rifai dimungminkan murni kesalahan dari pihak TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan).

Ia menilai kesalahan TKSK tersebut lantaran tidak serta merta mengajak pihak desa saat melakukan survei warung yang bakal dijadikan penyalur BPNT itu.

“Dari awal tak pernah koordinasi dengan desa. Jadi namanya M. Arif malah salah tempat ke Rifai. TKSKnya survei tak melibatkan desa. Anehnya lagi saudara Rifai kok mau mengatasnamakan nama Arif. Buktinya itu warungnya bernama Arif,”papar Zaenuri.

“Saat absen rapat di Kecamatan pun mengatasnamakan Arif,”sambung dia.

Tak hanya itu, oknum penyalur BPNT itupun diduga melakukan penyimpangan. Sehingga ada KPM yang merasa dirugikan.

“Ada 3 KPM itu dirugikan. Mungkin ada lagi. Anehnya 3 KPM itu dimintai surat pernyataan oleh oknum penyalur itu, seakan-akan KPM itu menerima bantuan dari awal hingga April 2020 ini. Padahal KPM itu hanya menerima sekitar 2 kali saja,”ungkap Zaenuri.

Sementara, salah satu KPM Sofyan mengaku jika ia hanya menerima satu kali saja. Itupun di bulan Januari 2019 lalu.

“Mendet sepindah tok. Januari 2019. Tanda tangan tenggene Pak Rifai. Nembe niki tok, sepindah tok, langsung mboten pendet maleh,”akunya.

Tak hanya itu, ia juga sempat diminta tanda tangan terkait bantuan itu.

“Kulo mboten ngertos surat penyataane (isinya, apa red). Kulo tanda tangan, kulo mboten ngertos. Sing nyukani njeh pak Rifai, sekitar dalu bakdo Maghrib. Njeh Sekitar 4 dalunan meniko,”ucapnya dengan bahasa Jawa.

Dalam penandatanganan itu, Sofyan mengaku jika tanda tangan itu bisa dijadikan sebagai prasyarat menyediakan alat Electronic Data Capture (EDC)

“Sanjange Rifai ngeten : Niki kulo bade medunaken mesin gesek, tulong tanda tangan niki pak. Nyepeng kartu pertama niku pas teng kecamatan niko (pertama kali BPNT bergulir), sak sampunipun mboten nate megang (kartu, dan lainnya),”tuturnya.

Kemudian saat ditanya langkah apa yang bakal diambil olehnya, pria yang mengalami gangguan pada penglihatannya itupun akan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat yang berwenang.

“Ya lanjut mawon (serahkan ke aparat),”tukasnya.

Salah satu anggota DPRD Rembang dari Partai Demokrat Gunasih menjabarkan jika pihak dewan hanya bisa memberikan penengah dan mengklarifikasi yang ada di lapangan.

“Kami hanya memberikan solusi supaya tak ada mis komunikasi. Harapannya yakni bantuan itu dapat tersalurkan kepada KPM dengan baik dan utuh,”kata Gunasih.

Di sisi lain, pihaknya juga mendapatkan informasi ada dugaan pelanggaran terkait penyaluran BPNT.

“Kalau memang salah ya jangan diulangi lagi. Jangan sampai orang miskin ini bagiannya terselewengkan. Sehingga kita perlu tahu klarifikasi soal ini,”ujar Gunasih.

Tak selang berapa lama pihak DPRD meninggalkan balai desa Banowan, oknum penyalur BPNT atas nama Rifai pun mendatangi balai desa setempat.

“Saya memang sejak awak penyalur sembako. Itu sejak awal ada sekitaran 250 KPM. Kemudian ada zonk(kekosongan data, red), bermasalah banyak. Ya ada pengurangan, ada hal apa saya tak tahu,”aku Rifai kepada media.

Kemudian saat dikonfirmasi mengenai permasalahan yang dialami KPM atas nama Sofyan, Rifai mengakui bahwa hak itu dialihkan kepada orang lain.

“Itu (Sofyan) statusnya KKS dobel. Satu KK dua orang yang dapat. Lalu yang nerima istrinya, yang satu (bagian Sofyan) sepakat dialihkan ke orang,”ujarnya.

Saat ditanya apakah hal itu diperbolehkan oleh aturan, ia hanya menjawab saat itu belum ada surat edaran dari instansi terkait.

“Itu (soal boleh tidaknya dialihkan kepada orang lain, red) tak ada surat edaran. Itupun baru ada edaran tahun 2020 dari sekda atau apa itu,”tuturnya.

Ia pun menjadi penyalur BPNT di Banowan ini lantaran ada TKSK yang sudah mensurvei dirinya.

“Desa mununjuk siapa (warung) saya tak tahu. Lalu TKSK mensurvei ke saya, lalu disuruh buat rekening di BNI. Kemudian lalu ada beras di tempat saya (didrop ke warung saya). Dari mana dan dari siapa saya tak tahu. Saya juga lapor ke desa. Dan desa bilang : simpan saja dulu. Dari BNI, TKSK pun penyurvean ke rumah saya,”akunya mengakhiri.

Dinsos PPKB Akui Salah ada Pengedropan Sembako tak Sesuai Warung yang Ditunjuk Desa Banowan

Seperti diberitakan sebelumnya pada Jumat (29/5/2020) Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Rembang Nasaton Rofiq di ruang kerjanya, mengakui jika penyalur E Warong yang ada di desa tersebut merupakan bukan yang ditunjuk oleh Pemdes setempat.

“Kasus yang di Banowan itu ada 2 versi makanya saya rada pusing. Gini ceritanya setelah saya buka data awal. Yang diusulkan oleh Kades (Pemdes) untuk E Warong itu Arif. Nah, ketika suplier (bahan pokok, red) saat ngedrop itu justru (salah toko, salah tempat, red) yakni ke Rifai,”jelas dia menjabarkan.

Anehnya, kekeliruan ngedrop barang sembako itu sudah berjalan hampir 1.5 tahun. Bahkan Dinas Sosial pun tak begitu tahu menahu soal itu.

“Itu sudah jalan satu setengah tahun lebih. Memang saya tak bisa mantau secara maksimal. Setelah tahu, saya langsung marah betul ke TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan). Dan mengapa kok masih dipakai (toko Rifai) itu,”tanya dia ke TKSK sambil menjabarkan kasus itu ke media.

Saat permasalahan itu muncul, kini yang semula penyalur E Warong Rifai Banowan tersebut diberhentikan aktivitasnya untuk melayani KPM.

Pemberhentian pelayanan kepada KPM itupun secara sementara dan dialihkan ke Babak Tulung atau desa tetangga.

“Yang jelas posisi saya hanya mengkalarifikasi benar tidaknya dugaan itu yang ditujukan ke penyalur E Warong itu. Dan misalkan apakah benar yang dituduhkan ke mereka, ya silahkan laporkan saja. Dan akan lebih fair jika ada bukti. Dan misalkan berlanjut pun saya siap jadi saksi ahli,”sambung Nasaton.

Setelah itu, oknum penyalur BPNT itu memberikan klarifikasi di hadapan Pemerintah Desa dan Muspika Kecamatan Sarang .

Dalam Klarifikasi itu di hadapan Camat Danramil dan Kapolsek Sarang Rifai mengakui bahwa dirinya telah menggesek dan mencairkan bantuan BPNT milik 3 KPM masing masing bernama Supatmi ,Sofyan dan Khozin .

Di sisi lain, dirinya mengaku salah dan berjanji akan mengklarifikasi dan membetulkan berita yang di laporkan dirinya disalah satu media.

Selain itu dia juga pasrah dengan keputusan desa yang akan diambil untuk dirinya .(san)