Tajam News

Serba Sederhana,Ratusan Santri Diatas Bukit Watu Layar Lasem Ini Dididik Mandiri

REMBANG,mediatajam.com – Pondok Pesantren Nurul Mustofa yang dibangun di atas bukit watu Layar Desa Bonang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang menyedot perhatian masyarakat .

Pasalnya , Pondok Pesantren yang berada tak jauh dari makam
Sultan Mahmud ,Sultan Minang Kabau itu merupakan pondok pesantren berwawasan lingkungan dan kewirausahaan.

Selain mengajarkan ilmu agama Pengasuh Ponpes Nurul Mustofa
Kyai Syaifullah juga mendidik para santrinya untuk berwira usaha dengan mengembangkan pangan lokal.
Mulai dari menaman sayur sayuran
buah buahan , ternak ikan lele, nila kambing hingga memproduksi tahu , tempe dan kerupuk ikan.

Semua jenis usaha itu dikelola dan dipasarkan oleh para santri.
Adapun hasil penjualan dari usaha itu , untuk mencukupi kebutuhan sehari hari para santri itu sendiri.

Tujuan diterapkan pendidikan wirausaha itu untuk mendidik santrinya agar bisa berdiri di atas kakinya sendiri (Berdikari) dalam ekonomi seusai mondok di sana

Berbeda dengan kebanyakan pondok pesantren pada umumnya ,
di lokasi Pondok Pesantren yang berdiri diatas lahan seluas hampir 3 hektar dan baru berusia 3 tahun ini tidak terlihat fasilitas bangunan tempat menimba ilmu agama yang memadai layaknya di pondok pondok pesantren pada umumnya.

Dilokasi pondok pesantren yang jaraknya tak jauh dari Pasujudan Sunan Bonang
ini yang nampak hanya deretan rumah – rumah panggung untuk istirahat ratusan
santri serta sebuah Masjid untuk ibadah sekaligus menuntut ilmu para santrinya

Uniknya lagi , para santri yang ada di ponpes ini ada juga yang sudah berkeluarga nyantri dan tinggal bersama di pondok pesantren .
Selain itu ada juga anak anak
jalanan dan mualaf

Lurah Pondok Muhammad Idris Abdul Qodir saat ditemui mediatajam.com mengatakan jika pondok pesantren Nurul Musthofa ini memang mempunyai misi Santri Berdikari (Berdiri di atas kakinya sendiri) dalam hal kemandirian ekonomi dan lainnya.

“Di sini tak hanya membekali santri dengan ilmu agama. Namun juga membekali santri dengan skill wirausaha. Kenapa? Karena pondok ini mempunyai program santri berdikari,”ucapnya.

Menurutnya, kebanyakan santri yang mondok di pesantren itu hanya mempunyai ilmu yang matang. Yakni ilmu agama. Hanya saja tak mempunyai skill yang mempuni di bidang usaha.

“Problematika santri itu yakni, saat di pondok mempunyai ilmu yang mumpuni. Namun saat pulang ke kampung tak mempunyai skill. Sehingga mereka bekerja apa adanya (kerja kasar, red). Sehingga waktunya tersita dan ilmu agamanya yang didapat tak bisa maksimal diajarkan kepada masyarakat. Tak terlihat kealimannya, karena tertutup dengan aktivitas pekerjaannya itu,”ujarnya.

“Dan jika santri mempunyai skill wirausaha, lalu pulanh ke kampung, maka bisa mendirikan usaha, serta bisa mengamalkan ilmunya (agama, red) kepada masyarakat,”sambungnya.

Dengan begitu, pria yang berasal dari wilayah Lampung itupun meyakini nantinya para alumni santri ini bisa menjalani rutinitas sehari-hari dengan layak seusai lulus dari pondok pesantren ini.

“Jika lulus mereka bisa mempraktekan apa yang sudah didapat dari bimbingan di sini, dan nantinya bisa hidup mandiri dan berkembang,”paparnya.

Sementara saat disinggung terkait latar belakang santri, ia pun tak menampik jika santri ponpes Nurul Musthofa ini datang dari berbagai wilayah luar Jawa. Bahkan ada yang berbagai kalangan.

“Kalao santrinya sendiri ada sekitar 150an orang. Baik dari Jawa Tengah, Jambi, Medan, Palembang luar Jawa lainnya. Ada yang anak jalanan, mantan preman, bahkan ada yang sudah berkeluarga bersama keluaraganya mondok di sini,”akunya.

“Intinya yakni selain mengaji, kita juga diajarkan untuk berwirausaha. Hasil dari wirausaha itu kita jual ke warung-warung area pondok, dan yang paling penting ialah, selain dijual hasil wirausaha itu kita konsumsi sendiri atau untuk.keperluan dapur,”pungkasnya.(San)