Semarang,MediaTajam.Com _ Anggota komisi A DPRD Jateng Fuad Hidayat mengatakan bahwa pelaku aksi teror maupun radikalisme di identikan dengan ummat Islam hal itu kata dia sangatlah salah besar dikarenakan orang islam sendiri justru sangat mengutuk keras yang namanaya aksi teror maupun radikalisme.
“jadi begini sebenarnya sangatlah keliru jika pelaku terorisme ini di identikan dengan Islam karena semua agama ini mengajarkan kebaikan ,tetapi pemeluk-pemeluknya yang menafsirkan sesuatu secara salah dan ini bisa menjadi potensi masalah “ujar Fuad dalam Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah bertajuk Menangkal Terorisme di Hotel Dafam, Semarang (20/2/17).
isu Yang terbaru misalya Fuad mecontohkan ,bahwa hari ini di Amerika munculnya donald trump dengan kebijaganya yang kontrofersial terhadap ummat muslim dengan di larang datang kenegaranya ini kalau tidak di waspadai juga menjadi pemicu kontraksi peradaban baru.
“bukan kemudian menghadapkan islam dan agamnya tidak tapi ini harus ada deteksi dini agar masalah ini bisa kita tangkal sejak awal , yang justru menarik yang harus kita waspadai saat ini sekalipun ini masih kita gali lebih dalam ada hasil survai misalnya ada sebelas juta orang Indonesia ini mulai berfaham radikal dari 155 juta muslim 11 jutanya itu mulai permisip terhadap faham-faham radikal .11 juta itu bukan angka yang kecil 11 juta ini mungkin angka penduduk suatu negara bisa mendirikan negara ini kalau benar”bebernya.
Dengan demikian justru ini yang harus di antisipasi tambah Fuad, perlunya cegah dini NKRI ini sebetulnya kata dia bukan hanya aset bangsa Indonesia tapi aset dunia dimana ada mayoritas warga muslim tapi di situ kemudian bisa berinteraksi dengan agama-agama lain secara baik secara damai dan ini bisa menjadi contoh bagi negara lain jangan sampai kemudian NKRI yang hari ini ada potensi 11 juta itu suatu saat bisa menjadi era baru menjadi suriah baru sehingga ini yng kemudian harus kita perbincangkan sejak awal bagaimana menangkal terorisme mungkin justru di awal dulu menangkal faham radikal ini tidak berkembang lebih jauh lagi .
“Mungkin ini sifatnya rekomendasi program –program deradikalisasi yang melibatkan aparat kemudian birokrasi negara yang nanti mengajak stake holder lain seperti pesantren mungkin kemudian sekolah sekolah kristen dan pemuka agama buda ,hindu , konghucu dan sebagainya harus mulai kita giatkan kembali sehingga NKRI yang merupakan gambaran mini berbagai macam penduduk dengan perbedaan agama ini bisa di bingkai dengan satu kesatuan kebersamaan kedamaian ini justru yang mulai kita kawal terus jangan sampai kemudian radikalisme ini nanti merusak kedamaian NKRI yang kita cintaini “imbuhnya .
Sementara itu ,di tempat yang sama Brigjen Pol Muhammad Syafei selaku Direktur Eksekutif Jakarta Center For Law Enforcemen t Coorporation (JCLEC) menanggapi soal sebelas juta orang yang berpotensi mulai berfaham raikalisme hal ini ia kutip dari penyampaian Yenny Wahid selaku Direktur Wahid Institute dalam Talkshow di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.
Saat ini di himbo Semua lapisan masyarakat perlu waspada, hal tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya tingkat radikalisme sudah mencapai belasan juta dari total keseluruhan penduduk Indonesia.faham tersebut Kebanyakan menyasar anak muda, mayoritas laki-laki. Mulai dari tingkat universitas, pesantren, serta sekolah.
“paham radikalisme tidak akan pernah mati, di butuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk menangkal serta meminimalisir hal tersebut.Semua pihak bertanggung jawab dalam proses menangkal radikalisme, harus siap serta saling bergandengan tangan termasuk Wartawan “pungkasnya .*uut/Sf


