
Semarang,Mediatajam.Com – Bertempat di gedung Wisma Perdamaian Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Rabu (14/3/17) Gelar acara Silaturahim Kebangsaan ( RAHIM BANGSA ) bersama para Rektor,Guru,Besar,Akademisi ,Tokoh Lintas Agama Dan Masyarakat.
Hadir dalam acara tersebut yakni, UIN Walisongo, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Universitas Semarang, dan Universitas Dian Nuswantoro Semarang.Ada juga dari luar Semarang, seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan Universitas Sains Al Qur`an (Unsiq) Wonosobo,dan Universitas Muria Kudus (UMK) .mengambil tema’MESKI BERBEDA KITA SAUDARA ‘.
Dalam acara tersebut sedianya panitia mengundang beberapa Ulama, Karismatik seperti KH Mustofa Bisri (Gus Mus ,)dan Habib Lutfi Bin Yahya namun di karenakan ada agenda lain di Rembang Gus mus tidak bisa hadir .
Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Muhibbin mengatakan, belakangan ini semakin marak tindakan intoleransi agama yang dikhawatirkan bisa memecah belah persatuan bangsa. Ia prihatin melihat kondisi masyarakat sekarang, apalagi di Jakarta Sampai ada orang mati tidak boleh dishalati.
Diakuinya selma ini, kalangan guru besar dan akademisi perguruan tinggi cenderung diam, tetapi bukan berarti membiarkan intoleransi yang terjadi di lingkungan masyarakat.
“Kami diam karena biarlah berproses. Namun, ternyata didiamkan kok terus bertambah tidak bagus. Ini saatnya kami harus berbicara kepada masyarakat untuk peduli,”ujarnya.
Menurutnya, kalangan akademisi perguruan tinggi merasa peduli terhadap bangsa Indonesia agar kebhinnekaan yang selama ini tercabik bisa kembali terangkum secara baik .
” mungkin saja ada pihak-pihak yang sengaja tidak menginginkan suasana yang selama ini, aman dan damai. Makanya, kami harus bicara. Masyarakat harus peduli dengan bangsa ini,” pungkasnya.
Sementara itu Habib Lutfi Bin Ali Bin Yahya dalam tausiahnya mengajak semua pihak untuk kembali merawat kebhinnekaan dengan saling menghormati, menghargai, dan tidak mengintervensi.
“Mari kita sama- sama kembali. Mulai dari `mindset` pendidikannya yang memang tidak meninggalkan kemodernan, tetapi fondasi kebangsaan, Merah-Putih, harus tetap dibangun,” jelasnya.
Menurut Habib Luthfi, generasi muda yang terus bertumbuh akan merasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang berbeda-beda tetapi tetap bersaudara, dan tetap “handarbeni”.Tandasnya *(uut/Frin)

