SEMARANG, mediatajam. Com – Masalah anemia atau kurang darah masih menjadi “momok” kesehatan yang menghantui remaja Indonesia, khususnya para remaja putri. Bergerak cepat merespons kondisi ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Semarang, Gajahmungkur, Sampangan kembali turun ke lapangan. SPPG Sampangan menggelar aksi sosialisasi ke sekolah – sekolah yang berada di bawah naungannya, Rabu (20/5/2026).
Kali ini, edukasi difokuskan pada tema yang sangat krusial: *”Dampak Buruk Anemia pada Remaja.”*
Mengapa Anemia Sangat Berbahaya untuk Remaja?
Anemia terjadi saat tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau hemoglobin (Hb). Padahal, Hb bertugas penting sebagai “kurir” yang mengantarkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Agar sel darah merah ini terbentuk dengan baik, tubuh kita sangat membutuhkan zat besi. Zat gizi penting ini bisa kita dapatkan dengan mudah dari konsumsi sayuran hijau, daging merah, hingga kacang-kacangan.
Sayangnya, gaya hidup remaja zaman sekarang kerap memicu anemia. Kebiasaan sering melewatkan sarapan dan hobi mengonsumsi makanan cepat saji (junk food) menjadi pemicu utama tubuh kekurangan zat besi. Akibatnya bisa ditebak: tubuh menjadi cepat lemas, sulit berkonsentrasi saat belajar, dan bagi remaja putri, siklus menstruasi bisa menjadi tidak teratur.
*Angka Anemia Remaja Putri Masih Tinggi*
Bukan tanpa alasan SPPG Sampangan gencar melakukan sosialisasi ini. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. Prevalensi anemia pada remaja putri usia 15-24 tahun di Indonesia mencapai 32%. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding remaja putra yang berada di angka 18%.
“Perbedaan angka yang cukup mencolok ini terjadi karena remaja putri mengalami menstruasi setiap bulan, sehingga kehilangan banyak zat besi,” ungkap tim SPPG di sela-sela sosialisasi.
Secara biologis, remaja putri memang membutuhkan asupan zat besi yang lebih tinggi, yaitu 15 mg per hari, dibandingkan remaja putra yang hanya membutuhkan 11 mg per hari. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga bisa memicu masalah kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, baik remaja putra maupun putri wajib memahami pentingnya gizi seimbang.
*Program MBG: Solusi Intervensi Gizi untuk Masa Depan*
Melihat dampak buruk anemia yang nyata, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai solusi konkret intervensi gizi di sekolah. Program MBG membawa banyak manfaat, mulai dari memastikan siswa mendapatkan asupan makanan kaya zat besi, hingga membantu meningkatkan konsentrasi belajar di kelas.
Menariknya, dalam sosialisasi kali ini, tim SPPG tidak hanya membagikan informasi seputar anemia. Para siswa juga diedukasi mengenai rambu-rambu konsumsi pangan, termasuk mengenal daftar menu makanan yang tidak direkomendasikan oleh Badan Gizi Nasional karena dinilai minim nutrisi atau tinggi pengawet.
Melalui edukasi yang komunikatif ini, SPPG Sampangan berharap para generasi muda bisa lebih bijak memilih apa yang mereka konsumsi. Yuk, mulai hari ini sayangi tubuhmu, rutin sarapan, dan penuhi kebutuhan zat besi harian agar bebas dari anemia!






