REMBANG ,Mediatajam. Com– Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang tahun ini bakal meminta tambahan anggaran sebesar Rp. 3 miliar melalui anggaran perubahan tahun 2019 yang dialokasikan lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Pasalnya untuk tahun 2018, pihak Dintanpan hanya mendapatkan DBHCHT sebesar Rp. 1 miliar saja. Jumlah tersebut dinilai sangat kecil. Mengingat tahun sebelumnya yakni 2017 Dintanpan mendapatkan kucuran DBHCHT sebesar Rp. 9 miliar.
Kepala Bidang Perkebunan Dintanpan Rembang Ika H. Afandi mengaku jika dana Rp. 1 miliar dari DBHCHT di tahun 2018 sangat kecil. Sebab dana itu harus dialokasikan untuk peningkatan bahan baku tembakau maupun pengadaan fasilitas lainnya yang berkaitan dengan pertanian tembakau.
“Di Rembang saat ini sudah ada sekitaran 5 ribu Hektare lahan tembakau. Sehingga kita akan meminta tambahan Rp. 3 miliar lagi untuk anggaran perubahan. Supaya nantinya aktivitas atau program kerja di bidang tembakau dapat tercakup semua. Setidaknya bisa memberikan kebutuhan masyarakat petani tembakau yang ada di Rembang,” ujar dia.
Dari informasi yang dihimpun, untuk DBHCHT tahun sebelumnya digunakan untuk pengadaan cultivator, tractor rotary, hand tractor, pelatihan petani tembakau maupun pembangunan jalan usaha tani.
Tak hanya itu, untuk tahun 2017 alat pertanian telah diserahkan kepada kelompok tani sebanyak 368 unit. Baik yang terdiri dari anggaran APBN sebanyak 127 unit, APBD I 49 unit, APBD II 42 unit dan dari DBHCHT 150 unit.
“Kalaun tahun ini memang penggunaan DBHCHT hampir sama item itemnya. Hanya saja saat ini anggaran DBHCHT sebesar Rp 1 miliar saja. Selain itu juga ada pengadaan alat perajang tembakau dan pembuatan sumur pantek bagi petani,” bebernya.
Di satu sisi, ia juga mengutarakan bahwa untuk penanda tanganan atau pengedropan DBHCHT telat. Mengingat tahun sebelumnya selalu diproses awal tahun atau sekitar bulan Januari.
“Saat ini DBHCHT memang rada telat. Bahkan penanda tanganan itu malah bulan Juni dan Juli baru di drop anggarannya. Sebenarnya ya bulan Januari atau awal tahun. Supaya para petani juga tak molor dalam menjalankan tugasnya. Misalkan saja, jika pembuatan sumur pantek itu telat, maka secara petani akan kesulitan mendapatkan air. Bahkan kebanyakan dari mereka harus mendatangkan tangki air. Dan itupun dirasa kurang tercukupi,” tuturnya.
Ia menilai, keterlambatan pengedropan DBHCHT itu dikarenakan ada perubahan baru. Mengingat tahun sebelumnya separoh dari DBHCHT yang diterima Pemkab separohnya untuk keberlangsungan petani.
“Keterlambatan itu dimungkinkan ada aturan baru penggunaan biaya itu. Mungkin saja peraturan itu mengenai separoh dari DBHCHT Pemkab separohnya diperuntukan untuk kesehatan. Berbeda dengan tahun lalu,”ungkapnya.
Kemudian pihaknya juga menyinggung jika semakin banyak alat pertanian yang disumabngkan atau diberikan kepada petani, maka secara otomatis dapat memberikan nilai plus. Terlebih bagi pengeluaran petani saat menggarap lahan tembakaunya.
“Alat alat pertanian semakin banyak yang diberikan oleh Pemkab ke petani apakah itu petani padi atau tembakau maka akan bisa memangkas biaya. Keseharian saat menggarap ladangnya. Sehingga itu sangat bermanfaat sekali jika anggaran DBHCHT tambahan yang kita minta ke Pemkab di setujui. Mudah mudahan ya disetujui oleh Bupati. Sebab Bupati juga sempat melontarkan bahwa anggaran perubahan untuk bisa menganggarkan itu,”pintanya.
Di suatu sisi Ika juga mengatakan bilamana peralatan tani tersebut dapat dirawat dan dimanfaatkan sebaik baiknya, secara otomatis akan bisa mengundang petani lainnya untuk bisa bersama sama mencoba menanam tembakau.
“Kita contohkan misalkan saja, ada petani yang lahan sawahnya gersang atau bero dan minim ditanami padi, maka mereka bisa bersama sama menanam tembakau. Sehingga mereka juga akan bisa difasilitasi kelompok itu. Bahkan tahun berikutnya jika jumlah kelompok itu bertambah, maka bantuan juga akan bertambah juga. Sehingga hasil yang akan didapatkan oleh petani tembakau juga bisa maksimal,”paparnya.
Sebelumnya, Bupati Rembang abdul Hafiz mengutarakan komitmennnya jika di masa pemerintahannya 5 tahun ini bakal mentargetkan pembelian alat pertanian sebanyak 882 unit bagi para petani di Rembang. Selain hand traktor juga masih banyak alsintan lainnya seperti rotary, alat Rajang tembakau dan semuanya gratis.
“Banyak yang sudah kita realisasikan, dalam tempo dua tahun anggaran ini sudah ada sekitar 500 lebih hand traktor, rotary, alat rajang hampir 600 dan semuanya gratis tidak ada bayar membayar atau transaksi,” ujarnya.
Bupati meminta para kelompok tani yang menerima bantuan alsintan agar bisa memanfaatkan bantuan dengan sebaik- baiknya. Jangan ada penyelewengan, karena akan diusut oleh tim Saber Pungli, seperti yang di desa Nglojo Sarang dan sudah ada penetapan tersangka dalam penyelewengan hand traktor.
“Kelompok tani harus bersinergi dengan pemerintah, karena itu sangat dibutuhkan dalam kesuksesan program untuk pertanian ini. Upaya tersebut dibangun agar semua sama- sama bahagia dan sama- sama terhormat. Bupati menyebut tidak boleh hanya Bupatinya yang terhormat, tetapi petaninya juga harus terhormat,”ucap dia.
Kepala Dintanpan, Suratmin menyebutkan selama periode 2016 – 2021 pemkab memberikan dukungan kepada petani dalam hal mekanisasi pertanian, khusus pengadaan hand traktor untuk kelompok tani ditarget sebanyak 882 unit. Untuk perkembangan realisasinya cukup bagus dari tahun 2016 hingga tahun 2017.
“Pada tahun 2016 pemkab telah menyalurkan 227 unit hand traktor,sedangkan 2017 telah diserahkan 368 unit yang terdiri dari APBN 127 unit, APBD I 49 unit, APBD Kabupaten 42 unit dan dana DBHCHT 150 unit, sehingga sudah tersalurkan 595,” pungkas dia.
Sementara itu, salah satu petani dari Desa Telgawah Kecamatan Gunem Parno, yang menjadi salah satu penerima bantuan tersebut menyatakan terbantu oleh bantuan alsintan. Mengingat saat ini para petani lainnya juga menggarap sawah masing masing.
“Pengelolaan bantuan ini tetap pada kelompok tani, meski nanti ada pengelola tersendiri. Kita akan gunakan untuk mengolah lahan seluas 20 hektare di kelompok tani kami. Mudah mudahan ini sangat bermanfaat untuk ke depannya,” harapnya.
Selain itu ia juga bakal mengajak rekan rekan petani lainnya untuk bisa selalu menggunakan alsintan dari Pemkab dengan sebaiknya. Mengingat lahan pertanian saat ini bisa dijadikan pendapatan yang bagus. Baik itu untuk ditanami jagung, padi, tembakau ataupun kedelai.
“Alat tani ini kan untuk mengolah tanah. Yang jelas bisa banyak membantu, bisa menghemat tenaga. Dan yang paling penting ya mudah mudahan para petani lainnya atau kelompok tani lainnya bisa segera mendaaftarkan diri untuk mendapatkan itu,”pesannya.**Hasan Yahya




