Tajam News

Pernikahan Dini Anak Difabel

REMBANG ,MediaTajam. Com _ Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga , masyarakat, pemerintah dan negara. Hak anak yang dimaksud adalah hak untuk tumbuh, berkembang , hak memperoleh pendidikan hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental,spiritual dan sosial.

Hak hak anak tersebut tidak didapatkan disebabkan beberapa faktor , contohnya adalah korban pencabulan anak dibawah umur , maupun akibat perkawinan di usia dini

Dikabupaten Rembang yang beberapa kali memperoleh penghargaan kategori Kabupaten Layak Anak (KLA), ternyata kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur yang menyebabkan masa depannya hancur ,disinyalir masih marak terjadi

Berdasarkan informasi warga masyarakat yang diperoleh mediatajam, sejumlah kasus tersebut belum lama ini terjadi ada di wilayah Kecamatan Sarang dan Kecamatan Kota Rembang.

Diwilayah Kecamatan Sarang, beberapa kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur tersebut diselesaikan secara kekeluargaan, Namun ada juga yang diselesaikan di jalur hukum dan ada juga yang kasusnya belum tersentuh hukum.

Seperti apa yang dialami siswi salah satu MTS sebut saja Mawar (15), remaja dari keluarga kurang mampu warga Desa Sumbermulyo Kecamatan Sarang ini terpaksa kehilangan masa depannya akibat dicabuli pria beristri berinisial RG (27) warga Desa Nglojo hingga hamil dan melahirkan.

Sejak aib itu terjadi pada tahun 2015, hingga saat ini pelaku dikabarkan telah pindah rumah dan penanganan kasusnya belum diketahui sejauh mana.

Selain itu kasus yang hampir sama juga dialami sebut saja Melati (15), siswi salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) warga Kelurahan Sumberejo Kecamatan Kota Rembang, menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh tetangganya sendri berinisial JTH (26) tahun hingga hamil dan akhirnya dinikahkan secara resmi dikantor KUA setempat.

Hal itu setelah orang tua pelaku memohon kepada orang tua korban agar kasus pencabulan yang dilakukan pelaku tidak dibawa ke ranah hukum.

Sugeng, orang tua Melati, kepada wartawan mediatajam.com menuturkan, peristiwa itu terjadi pada tahun 2016 lalu. Dirinya mengaku tidak menduga jika anaknya yang tuna wicara dan masih sekolah di Sekolah Luar Biasa itu hamil.

“Awalnya saya tidak tahu kalau anak saya di dekati JTH dan menjalin hubungan. Kecurigaan saya muncul ketika melihat postur tubuh anak saya ada yang  berubah,” ungkapnya.

Setelah sang putri difabel diperiksa dokter, baru dapat dipastikan kehamilannya.

Dengan segala keterbatasan, Melati mengaku telah disetubuhi JTH yang tetangga sebelah rumahnya.

“Saat itu juga saya  mau melaporkan ke polisi tapi orang tua JTH memohon agar diselesaikan secara kekeluargaan. Karena ada tanggung akhirnya saya setuju menikahkan keduanya ke KUA,” ungkapnya Selasa (18/4).

Lebih lanjut Sugeng menceritakan, beberapa bulan kemudian Melati dilarikan kerumah sakit lantaran keguguran. Bernasib malang. remaja belasan tahun itu saat dirawat tak sekalipun pernah dijenguk oleh suaminya.

“Sejak menikah JTH tidak pernah sekalipun ke rumah kami terlebih setelah  anak saya mengalami keguguran. Memang kalau uang walaupun sedikit kadang sebulan sekali masih dikasih dan dititipkan tetangga saya, atas prilakunya itu saya jadi jengkel. Ya kalau dicerai bagi saya gak masalah, ” tukasnya.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengaku prihatin mendengar kabar adanya kasus kasus pencabulan  terhadap anak dibawah umur yang terjadi di wilayahnya.

“Mendengar informasi adanya kasus tersebut jelas kami prihatin dan sedih. Memang ini tanggung jawab kita bersama, tapi kondisi ini jangan sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah saja.

Menurut Bupati, yang paling utama  adalah guru dan orang tua di rumah.  “Mereka harus mampu melakukan filter, selain itu kami juga belum menerima laporan  kinerja KPAD setempat,” kata Bupati.**Has/Sef