Tajam News

PWI Jateng Gelar Talkshow “Media, Keragaman, dan Tahun Politik 2019 “

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat membuka acara talkshow di Gedung Pers PWI Jateng

SEMARANG (MEDIATAJAM) – Masih dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke 73 tahun 2019 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah menggandeng radio Elshinta dan media di Jawa Tengah menggelar talkshow dengan tema ‘Media, Keragaman, dan Tahun Politik 2019’ yang digelar di Kantor PWI Jateng, Senin (11/2/2019).

Selain menghadirkan Key note speaker  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo , hadir sebagai narasumber diantaranya, Wakil Gubernur, H. Taj Yasin Maemoen, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Prof. Dr. Noor Achmad, MA, Ketua PWI Jateng, Amir Machmud NS, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jateng, Dewi Susilo Budihardjo, dan Ketua KPID Jateng, Budi Setyo Purnomo.

Wakil Gubernur, H. Taj Yasin Maemoen mengatakan, pada kegiatan ini selain untuk mengembalikan marwah Pers, juga mengajak masyarakat agar menghindari isu hoaks (berita bohong).

“Kita selalu mengajak masyarakat, ayo ciptakan kondusifitas di Jawa Tengah. Kita peduli dengan Pilgub, Pileg bahkan peduli dengan Pilpres. Mari datang ke TPS, salurkan suara kita pada Pemilu mendatang,” katanya.

Wakil Gubernur, H. Taj Yasin Maimoen

Taj Yasin mengajak masyarakat menjaga keragaman dan kerukunan yang sudah terajut dengan baik. Jateng yang adem dan  kondusif jangan sampai terkoyak oleh berita-berita hoaks atau informasi bohong yang marak di tahun politik ini.

“Pada tahun politik seperti sekarang hoaks dan nyinyir marak di media sosial. Ini harus kita sikapi. Ingat bahwa kita diperintahkan oleh agama dan kalau kita mengaku orang yang beriman ketika muncul berita-berita yang tidak bisa kita pertanggungjawabkan harus ber-tabayyun,” tambahnya.

Menurut Taj Yasin selain tabayyun mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar keadaannya, bagi umat Islam, semua yang dilihat, didengar, dipikirkan, dan dilakukan harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia, tetapi juga bertanggung jawab kepada Allah SWT. Demikian pula bagi umat agama lain pasti ada pertanggungjawaban terhadap Tuhan atas semua yang dilakukan.

“Dalam Al Quran jelas disebutkan, setiap seseorang akan mendapatkan ganjaran dari apa yang disampaikan. Jika yang disampaikan kebaikan akan mendapatkan ganjaran pahala, sebaliknya, menyampaikan keburukan akan diganjar dosa”,kata Taj Yasin.

“Semua informasi yang kita terima harus disaring sebelum share agar tidak ikut menyebarkan hoaks. Terlebih nyinyir, karena nyinyir itu gambaran otak dan hati seseorang hanya ada kebencian terhadap orang yang tidak disukai,” pungkasnya.

Sementara Ketua PWI Jateng Amir Machmud, berharap kepada elit politik untuk tidak mengkhianati cita-cita Pemilu damai dan kampanye damai dengan provokasi-provokasi yang tidak ada gunanya. Tinggalkan fitnah agar rakyat tidak muak dan apatis terhadap politik.

Amir mengajak teman-teman wartawan untuk menjadi penyebar informasi yang berpijak pada pilar-pilar kebangsaan sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, di tahun politik seperti sekarang ini banyak pihak-pihak yang mengatasnamakan media untuk kepentingan tertentu atau golongan.

“Salah satunya adalah Tabloid Indonesia Barokah yang sempat heboh beberapa waktu lalu karena tersebar di beberapa wilayah di Indonesia dengan isi tulisan yang cenderung menyudutkan sebagian kelompok serta berpotensi menciptakan keresahan di masyarakat”, katanya.

“Saya tidak menggolongkan ini sebagai media, karena ada syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk bisa disebut sebagai media sesuai yang tercantum dalam UU No.40 tahun 1999 , di perlukan konsekuensi media harus berbadan hukum setidaknya PT dan terdaftar atau terverifikasi di Dewan Pers atau dilihat dari itikad dalam pemberitaannya jika memenuhi akuntabilitas, mempunyai disiplin untuk memferivikasi untuk penjernihan pembenaran ini bisa di sebut sebagai media meskipun belum terverifikasi,” pungkasnya. **SEFRIN