REMBANG,Mediatajam. Com – Komisi A DPRD Rembang hari ini Kamis (14/11) mengundang pemilik perusahaan penyamakan kulit UD Alkuba Sale .
Undangan itu dilakukan setelah adanya aksi demo ratusan warga setempat yang mengeluhkan bau busuk yang ditimbulkan dari imbah perusahaan
Pemilik perusahaan tersebut yakni H. Kholid Mukri. Di mana pemilik usaha tersebut dihadirkan oleh Anggota Komisi A diruang banggar tentunya untuk memberikan solusi mengenai limbahnya. Namun yang dilakukan justru sambat kepada masyarakat soal modal dan kondisi usahanya saat ini.
Ketua Komisi A DPRD Rembang
M. Asnawai mengutarakan bahwa perwakilan warga yang demo pada Senin lalu meminta supaya usaha penyamakan kulit ini menutup sementara usahanya.
“Saat itu ada kesepakatan dari yang hadir minta supaya ditutup sementara sampai bau busuk itu tertanganai. Berhubung dalam pertemuan itu tak ada pemilik usaha sehingga pada Rabu ini pak Khokid kita hadirkan untuk duduk bersama membahas ini,”katanya.
Sementara itu, ia juga membeberkan hasil rekomendasi dari pihak Dinas Kesehatan Rembang mengenai kondisimbau busuk yang ditimbulkan oleh limbah perusahaan penyamakan kukit yang ada di Sale ini.
“Dinas Kesahatan juga merekemonedasi banyak gejala influ inza di sana yang ditimbulkan itu. Dan dari bahasanya Pak Ali Sofii (Kepala Dinas) tidak bisa dibiarkan,”ucap dia.
Sementara itu, pemilik usaha Penyamakan Kulit Al Kuba
Kholid Mukri mengajak keluargaa serta beberapa bakul kulit yang memang untuk saksi pertemuan di ruang Banggar DPRD setempat
“Maka saya waktu memohon cerita. Sebagai pedagang kulit sangat sakit situasinya dan memprihatinkan, sehingga terjadi over dosis saya prihatin. Penjualan saya tak lancar 3-4 tahun satu lembar pun tak bisa jual. Situasi bisnis eksport menutup tak menjalankan pembelian di semua. Baik di Jateng, Jabar. Maka monggo jika ingin menelusuri jika itu dianggap bohong atau tidak ,”urainya secara menjelaskan.
Kemudian ia juga bakal berusaha untuk bisa mengurangi bau busuk yang ditimbulkan dari usaha kulit ini. Hanya saja, ia juga meminta semua pihak untuk bisa memberikan solusi yang baik.
“Saya cuma buruh, dulu ada modal. Tapi buat nyalon bupati, sudah habis. Saya sudah berusaha, belum menemukan solusinya. Barang (kulit) sudah habis, ini mungkin bisa turun baunya. Selain itu saya juga minta saran mengurangi bau saya minta soilusi. Saya hanya bisa mengurangi bau saja. Misalkan diminta menghilangkan bau secara 100 persen memang saya angkat tangan tapi jika baunya turun saya usahakan,”ujarnya.
Salah satu warga Sale Bambang Sembodo mengutarakan jika demo atau protes itu tidak mempunyai misi untuk meminta usaha itu tutup secara permanen. Hanya saja, pihak pemilik usaha harus bisa memberikan tanggung jawab.
“Sebetulnya tidak ada permintaan untuk menutup pabrik. Namun kita meminta untuk tidak membuang limbah di sungai, kami tak punya rada iri dan dengki , yang penting bebas dari bau, bisa menghirup udara segar, dan pihak pabrik harus membenani itu dahulu,”pintanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Suharso menilai, sebetulnya yang harus dibenahi dan diperhatikan itu ada 4 poin. Yakni mengenai kondisi perusahaan kulit itu.
“Pada prinsipnya ada 4 hal. Yakni bagian belakang yang berada di luar pagar ada semacam pembusukan sehingga bau perlu ditangani. Kedua air yg mengalir di dalam lingkungan perusahaan. Ketiga yakni ekas endapan, masih nampak. Yang terakhir yakni IPALnya. Sehingga kita perlu mengeluarkan surat paksaan terhadap pembenahan IPALnya tersebut dan saat ini uji Laboratorium terhadap dampak kondisi perusahaan penyamakan yang menimbulkan bau busuk itu beluk keluar
Sementara itu, salah satu pejabat Dinindakop Rembang dibidang Perkulitan Sahab menyarankan supaya penggunakan bahan kimia untuk penyamakan kukit dapat diminimalkan.
“Tentunya penyamakan kulit itu menggunakan bahan kimia. Oleh sebab itu, untuk bisa mengurangi bahan bahan kimia yang dgunakan.
Sebelum diproses ipalnya bahan ramah lingkungan, mengurangi obat pengapuran kulit, kapur kawur, Bisa diganti dengan bahan lain. Limbah, cair, limbah padatan dan gas. Bisa bersumber dari sulhida. Amoniak, gas terbentuk karena proses protein kulit yang membusuk pengapuran,”terangnya .(Hasan Yahya)




