REMBANG,mediatajam.com – Akan diproduksinya gas di sumur Migas Desa Krikilan Kecamatan Sumber oleh Pertamina Hulu Energi Tuban East Java (PHE TEJ) pada bulan Oktober 2019 mendatang tentunya dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) miliaran rupiah
Hal itu diungkapkan oleh Bupati Rembang H Abdul Hafidz saat menghadiri “Festival Kemerdekaan” di alun-alun Rembang, Sabtu (24/8) pagi.
“Tentu kalau sumur gas itu sudah diproduksi bisa menambah kontribusi bagi PAD (Pendapatan Asli Daerah). Kemarin, kalau tak salah, itu bisa mendapatkan Rp. 3 sampai dengan Rp. 4 miliaran di tahun pertama. Namun setelah itu, di tahun kedua sekitaran Rp. 5 sampai dengan Rp. 7 miliaran,”kata Hafidz saat diwawancarai media.
Pihaknya mengutarakan hal itu lantaran sudah mengetahui surat edaran dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)Republik Indonesia yang berkaitan dengan kandungan gas yang ada di Randugunting, Krikilan Kecamatan Sumber Rembang.
“Setelah terbitnya surat dari Mentri (ESDM) tentang kandungan gas Randugunting. Di situ ada kanudngan gas tercantum sekitar ada 3 mm,”ungkapnya.
Setelah terbitnya surat dari Kementrian ESDM, saat itu menurut bupati sudah ada pihak yang bekerpentingan untuk mengelola sumber gas tersebut. Hanya saja, perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) itu telah diseleksi oleh pihak Pertamina dan lainnya untuk bisa mengelola gas saat diproduksi.
“Saat seleksi ada sekitaran 5 PT (perusahaan). Itupun harus melewati seleksi yang dilakukan oleh PHE (Pertamina Hulu Energi), Pertamina dan Pemkab sendiri,”bebernya.
Bupati menyebut, di antara kelima perusahaan yang mengajukan untuk pengelolaan gas itu, hasil seleksi menunjukkan bahwa PT. Sumber Energi (SE) yang diberikan kewenangan untuk menangani produktivitas gas di Krikilan Kecamatan Sumber.
“Akhirnya tim seleksi menemukan kepastian. Yakni PT. Sumber Energi (SE) yang mengelolanya dan itu akan kerjasama dengan pemkab,”ujarnya.
Menurut Hafidz, PT. SE juga perusahaan yang mengelola gas di wilayah Tuban – Jawa Timur.
Kemudian saat disinggung kapan waktu yang bakal digunakan untuk mengawali produktivitas itu, ia tak mengatakan secara pasti. Hanya saja, pihaknya mengatakan produksi bakal dilakukan tahun 2019 ini.
“Kalau jadwalnya, tahun ini sudah mulai diproduksi. Tahun ini sudah dimulai,”paparnya.
Selain itu, ia juga menyadari jika Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Rembang belum mempunyai modal untuk mengelola gas. Namun, pihaknya akan bekerjasama dengan perusahaan lainnya yang memang mempunyai kapasitas yang mumpuni.
“Kita sadar BUMD kita memang tidak punya modal. Dan kita harus kerjasama dengan yang lainnya,”ucapnya.
Untuk janga waktu saat produktivitas, bupati mengutarakan jika nantinya akan ditentukan selama 8 tahun terlebih dahulu.
“Waktunya 8 tahun, tetapi nanti dapat ditambah (perjanjian) lagi,”tambah dia.(san)


