REMBANG,Mediatajam. Com_Shandy Aprindo putra pasangan suami istri Rastono – Suci Rahayu warga Meteseh RT 1 RW 1 Kecamatan Kaliori harus memikul beban berat Pasalnya, bocah berusia 8 tahun ini mengidap kelainan kulit sejak lahir.
Kelainan itu membuat dirinya berbeda dengan warna dan bentuk kulit pada umumnya. Sehingga sekilas nampak seperti orang bule atau luar negeri.
Tak hanya itu, ia juga lebih memilih aktivitas atau kegiatan di dalam rumah, membantu aktifitas ibunya yang merupakan ibu rumah tangga.
Selain itu, ia juga mempunyai penglihatannya jauh dari kata normal. Ia tak begitu jelas untuk melihat jika dalam kondisi yang terang. Bola matanya pun tak bisa fokus sehingga ia sering mengalami pusing kepala.
“Kata dokter sih penyakit Albino gitu. Katanya juga ini bawaan lahir. Sehingga sulit diobati. Tapi bisa dikurangi, hanya saja perlu terapi khusus secara intensif. Kata dokter matanya minus, secara hitungan minus 7, juga silinder, tapi lupa berapa,” tutur Suci Rahayu.
Sementara itu, saat disinggung mengenai penglihatannya yang tak bisa normal, ungkap sang ibu, ia harus menjalani terapi rutin sebulan sekali dengan biaya sekali terapi senilai Rp 1,5 juta, demi meminimalisir efek yang ditimbulkan
Dengan mahalnya biaya itu, orang tuanya yang hanya bekerja serabutan, ia harus dapat menahan kondisi matanya itu.
“Dahulu rutin terapi di Eye Center Semarang, supaya matanya bisa fokus dan tidak pusing. Tapi sekarang ini sudah tidak mampu lagi, karena uangnya buat kakaknya mau masuk SMA kebutuhan juga makin banyak. Jadi agak susah ketika dia belajar,” jelasnya.
Di sisi lain, siswa yang masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD) Meteseh 2 ini dapat dikatakan murid yang cerdas. Terlebih selalu masuk 10 besar.
Hanya saja, dengan kondisi ini ia pun tak dibully oleh teman maupun masyarakat sekitar.
“Saya gak berani panas-panas, rasanya kulit seperti terbakar. Nanti kalau masih maksain main di panasan, kulit jadi merah, terus kaya ada gelembung-gelembung yang ada airnya (melepuh),” ungkap Sandy. **Hasan Yahya




