Demak, mediatajam. com- Meningkatnya populasi penduduk dan gaya hidup masyarakat yang cenderung memilih produk konsumtif sekali pakai,menjadi pemicu lonjakan sampah diberbagai daerah.
Sisa makanan rumah tangga dan kemasan plastik yang tercampur jadi satu,menjadi penyumbang terbesar materi sampah di TPA.
Akibatnya Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) yang diharapkan mampu menampung sampah dengan jangka waktu panjang jadi lebih cepat penuh dari waktu yang diharapkan.hal itu lantaran masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk memilah sampah yang mereka buang.
Menghadapi persoalan sampah yang kian kompleks tersebut masing masing pemerintah daerah kabupaten/kota menjadikan penanganan sampah sebagai isu strategis daerah yang harus selesai pada tahun 2029 sesuai program presiden prabowo.
Tak terkecuali di Kabupaten Demak,dengan keterbatasan sarana dan sumber daya yang dimiliki ,Pemkab Demak melalui Dinas lingkungan Hidup melakukan berbagai inovasi dan program penanganan sampah untuk menciptakan lingkungan bersih dan berkelanjutan.
Diantaranya dengan menyediakan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah dengan sistem Reduce, Reuse, Recycle )untuk 6 kecamatan yang jauh dari lokasi TPA Berahan Kulon. dengan TPS3R yang dibekali mesin pencacah sampah ,maka sampah organik dan non organik yang sebelumnya ditampung pada bank sampah di masing masing desa diharapkan mampu terurai habis.
Selain menyediakan TPS3R untuk pengolahan sampah, DLH Demak juga berusaha menuju ke sistem controlled landfill yaitu pemrosesan sampah dengan sistem pengurukan, secara berkala.
Kepada mediatajam.com kepala dinas lingkungan hidup kabupaten demak Mulyanto mengingatkan bahwa peran TPA berahan sebagai infrastruktur sampah bukan hanya sekadar tempat pembuangan akhir tetapi sebagai pertahanan terakhir dalam manajemen sampah untuk mencegah pencemaran lingkungan yang lebih luas.
” ketika masyarakat ikut memilah sampah yang hendak mereka buang maka sistem controlled dan sanitary landfill yang diterapkan di TPS berahan bisa lebih efektif dan cepat berhasil. Sampah yang dikirim ke TPS jadi lebih sedikit dan TPS tidak cepat overload ” kata mulyanto menjelaskan.
Mantan Camat Wedung tersebut menambahkan sampah bisa memiliki nilai ekonomis ketika dikelola dengan baik, namun bisa juga menjadi ancaman lingkungan ketika tidak disikapi secara bijak oleh masyarakat.
” Sampah bisa dikelola secara mandiri maupun komunal dari rumah masing-masing atau dari sumbernya, yang organik bisa di kompos untuk pupuk tanaman, yang non organik bisa di daur ulang dan dimanfaatkan lagi, sehingga bisa meningkatkan ekonomi secara sirkular. Pada intinya lebih baik kita manfaatkan daripada menimbulkan persoalan lingkungan. kata mulyanto menambahkan. **Teguh








