REMBANG,MediaTajam.Com _ Sepekan setelah hari raya idul fitri, Nelayan Tasik Agung Rembang secara rutin menyelenggarakan tradisi kupatan atau yang lazim disebut Bodo Kupat (lebaran kupat.red) grebeg syawalan . Dalam lebaran ketupat biasanya warga menyelenggarakan acara selamatan di masjid atau surau terdekat dengan menu utama ketupat yang dimakan beramai-ramai setelah upacara doa.
Dan yang lebih menarik,bagi warga yang mukim di tepi pantai,tradisi “bada kupat” dijadikan momentum untuk melakukan rasa syukur kepada Tuhan YME dengan label “Sedhekah Laut” dengan melakukan upacara ritual sesaji ke tengah laut yang sebelumnya sesaji itu terlebih dahulu di kirab keliling kota melintasi jalur pantura serta menggelar berbagai macam hiburan termasuk diantaranya tradisi “lomban” ( wisata- berperahu ke tengah laut).
Berdasarkan pantauan wartwawan pada Minggu (2/7) ribuan pengunjung yang datang dari dalam dan luar Kab Rembang memadati taman rekreasi pantai Kartini (dampo Awang Beach) yang kebetulan letaknya di jantung kota Rembang. Disamping berbelanja dengan aneka dagangan yang disediakan oleh panitia,pengunjung juga melakukan acara lomban dengan kawalan ketat tim pengamanan SAR ( Syahbandar,Satpol Air). Namun pada kegiatan perayaan kirab sesaji keliling kota tahun ini jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu.
Banyak pihak menilai menurunnya jumlah peserta Karena adanya dampak pelarangan cantrang sehingga perayaan grebek syawalan yang biasa digelar secara rutin oleh para nelayan pesisir Desa Tasing Agung Rembang itu tak semeriah tahun lalu
Ketua Panitia penyelenggara Pujianto mengatakan, pelarangan cantrang mengurangi aktifitas dan pendapatan para nelayan di Rembang. Hal itu memberikan dampak, berkurangnya jumlah peserta perayaan grebek syawalan tahun ini.
Meski tak menghilangkan seluruh hiburan yang biasa diadakan, namun pada rangkaian peringatan sedekah laut kali ini, jumlahnya ada yang dikurangi. Selain itu, panitia memilih mengadakan hiburan yang murah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Setelah mengadakan rapat, kami memutuskan untuk tetap mengadakan hiburan seperti ketoprak, dangdut, dan yang lainnya tapi tetap hiburan yang lebih murah” jelasnya.
Pujianto menyebutkan, jika jumlah peserta tidak lebih dari 60 peserta. Hal itu jauh dibawah jumlah peserta pada tahun-tahun sebelumnya yang diikuti lebih dari 200 peserta.
“Jumlah pesertanya menyusut banyak mas, kalau tahun lalu lebih dari 200 peserta. Tetapi tahun ini, hanya sekitar 60 peserta saja” tandasnya.
” Kami menyadari saat ini banyak tempat wisata laut seperti Pantai Karang Jahe dan pantai Caruban di Lasem yang juga ramai dikunjungi,tetapi Pemkab sudah memutuskan acara “lomban” tetap di pantai Kartini.
Hal itu karena tenaga pengamanan telah kami siapkan,sehingga kalau “lomban” diluar Pantai Kartini soal keamanan tentu sulit kita pantau dan boleh dikata “lomban liar,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kab Rembang,Suyono.
Bahkan untuk mengantisipasi membludaknya arus balik khususnya dari arah Surabaya-Semarang-Jakarta,Kapolres Rembang sudah menyiapkan rekayasa lalu lintas dengan membelokkan arus kendaraan dari arah Lasem sebelum memasuki kota masuk ke jalan lingkar (ring road timur Rembang.**Hasan Yahya


