REMBANG,MediaTajam.Com_Ribuan warga masyarakat dari dalam dan luar Rembang .
Mereka berbondong bondong tak hanya beserta keluarga masing masing. Namun juga ada datang beserta rombongan dari berbagai kalangan untuk menyaksikan langsung acara penjamasan Bende Becak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Jumat (1 Agustus 2017)
Mereka yang datang sehari sebelum acara rela menunggu berdesak desakan di depan rumah Abdul Wahid juru kunci petilasan Sunan Bonang untuk menyaksikan penjamasan yang rutin digelar setahun sekali pada tanggal 10 Dzulhijjah
Kepada wartawan Abdul Wahid, Juru Kunci Petilasan Sunan Bonang, menceritakan, Bende Becak tersebut, konon merupakan perwujudan dari seorang utusan dari kerajaan majapahit.
Pada saat itu, Sunan Bonang berhasil mendirikan pondok pesantren di Desa Kemuning yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Desa Bonang mengirim surat kepada Raja Majapahit yaitu Raja Brawijaya untuk memeluk agama Islam.
Setelah itu, Raja Brawijaya gantian mengutus anak buahnya yang bernama Becak untuk memberikan jawaban penolakan terhadap surat tersebut.
Namun sesaat tiba di pintu pesantren Sunan Bonang bersama murid-muridnya sedang mengaji. Sambil menunggu Sunan Bonang mengajar ngaji, utusan Raja Brawijaya yang bernama Becak tersebut bernyanyi-nyanyi kecil atau melantunkan tembang-tembang Jawa.
Tak sampai di situ, karena merasa terganggu dengan suara tersebut, kemudian Sunan Bonang bertanya kepada muridnya suara apakah itu? Dan akhirnya para murid muridnya tersebut menjawab bahwa suara itu merupakan suara orang bernyanyi.
Hanya saja, Sunan Bonang berkata itu bukan suara orang tapi suara bende (Gong yang berukuran kecil). Seketika utusan Raja Brawijaya bernama Becak berubah menjadi sebuah bende.
“Nah, di saat itulah Bende Becak menjadi sarana syiar Islam yang digunakan Sunan Bonang. Dan sejak sepeninggalnya Sunan Bonang, bende itu hampir selalu berbunyi ketika akan tanda-tanda penting. Seperti halnya saat ada penjajah hendak menduduki Lasem pada waktu itu,” ujarnya.
Dari pantauan dilokasi sejak waktu Subuh di Rumah Juru Kunci Petilasan Sunan Bonang tersebut sudah dikerumuni banyak orang yang membawa botol atau pun tempat minum bahkan teko. Sebab botol-botol dan teko tersebut akan digunakan untuk mengambil air bekas jamasan atau air yang sudah dicelupkan bende becak (gong kecil) yang seusai diberi doa oleh tokoh setempat.
Sementara Camat Lasem, Harjono saat membacakan sambutan Bupati Rembang Abdul Hafidz menjelaskan, Penjamasan Bende Becak tersebut merupakan sebuah ritual kebudayaan yang tiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bonang Kecamatan Lasem tepatnya setiap tanggal 10 Dzulhijjah kalender Islam.
“Secara substansi, bahwa kegiatan ini bisa menjadi bagian industri pariwisata. Maka kami berpesan kepada panitia dan pihak desa agar dari waktu ke waktu disempurnakan agar lebih menarik dan menjadi pesona wisata di Kabupaten Rembang,”terangnya
Supiyati salah satu pengunjung dari Jakarta bersama keluarganya mengaku sengaja datang menghadiri ritual penjamasan Bende Becak tersebut, untuk bisa mendapatkan air yang digunakan untuk menjamas.
Menurutnya, air tersebut diyakini bisa untuk menjadi obat atau untuk kebutuhan lain.
“Saya baru kali pertama ini datang. Sebab menurut informasinya ya sangat manfaat. Dan saya penasaran dengan bende becak ini. Menurut kabar airnya juga dapay dimanfaatkan. Sehingga saya sengaja datang.
Ya anggap saja ini hanya sebagai wasilah, kita ngalap berkah dari Sunan Bonang. Dan mudah-mudahan air jamasan ini, dengan ridho Allah bisa menjadi sarana untuk pengobatan dan keperluan lainnya,” ujarnya.
Ia mengaku bahwa akan membawa pulang air bekas jamasan itu. Selain itu juga akan meminta ketan kuning dan bambu bekas tatakan ketan kuning tersebut.
“Untuk datang ke sini, kita sambil membawa pulang air jamasan. Selain itu, nanti juga akan meminta ketan kuning (menu makanan) yang telah disajikan dan bambu bekas tatakan ketan ini,” pungkasnya.**Hasan Yahya


