Tajam News

Kapolres Rembang Digugat Praperadilan Oleh Tersangka Kasus Penyalahgunaan Solar Bersubsidi

Rembang,mediatajam.com – Seorang warga Sale berinisial R yang telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Polres Rembang atas kasus dugaan penyalahgunaan solar bersubsidi untuk keperluan bisnis tambang di wilayah Kecamatan Sale mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Rembang.

Gugatan itu didaftarkan oleh kuasa hukumnya M Sholeh dan partner di Pengadilan Negeri Rembang
Rabu (27/10/2021) siang.

Kepada wartawan M. Sholeh menjelaskan alasan kliennya menempuh jalur hukum tersebut.

“Merasa klien kita atas nama Renandy, diperlakukan tidak adil di dalam proses hukumnya,”bebernya kepada media di Pengadilan Negeri Rembang, Rabu (27/10/2021) siang.

Dalam gugatan ini, lanjut M Sholeh ada dua pihak yang digugat terkait praperadilan kali ini. Pertama yakni Kapolres Rembang dan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Rembang.

Sholeh pun menjabarkan bahwa kenapa pihaknya menyertakan dua nama tersebut dalam gugatan. Sebab ada beberapa point yang menjadi perhatiannya saat ini dan perlu dijelaskan ke publik.

“Kenapa dua (tergugat, red) ini, pertama ada empat yang menjadi objek gugatan, yaitu penetapan tersangka, terus Sprindik (surat perintah penyidikan), surat perintah penahanan dan surat perpanjangan penahanan dari kejaksaan,” terang dia.

Tak sampai di situ saja, ia pun menganggap bahwa aparat penegak hukum berlaku tidak wajar saat melakukan penyidikan terhadap kliennya tersebut.

“Sebab Renandy diperiksa pada Tanggal 29 September, dan tidak boleh pulang dan langsung ditetapkan besoknya sebagai tersangka dan langsung ditahan,” terang dia.

Dia melanjutkan, padahal sebelum menetapkan seseorang sebagai tersangka, penyidik harus memeriksa terhadap sejumlah saksi agar dapat dijadikan gambaran terkait adanya suatu tindak pidana.

“Tidak mungkin dan tidak lazim proses hukum satu hari bisa menetapkan tersangka, kasus ini bukan pencopetan, kasus ini bukan ranmor yang cukup pelaku dengan korban sudah selesai,” kata dia.

Dalam gugatan praperadilan tersebut, pihaknya juga mempertanyakan alasan penyidik kepolisian yang tidak memeriksa pemilik pom bensin.

Sebab, patut diduga pemilik pom bensin juga terlibat dalam penjualan solar bersubsidi untuk kegiatan penambangan.

“Kenapa pom bensin yang menjual solar ini kok tidak dijadikan sebagai tersangka, ada apa dengan pihak penyidik? Mestinya harus jadi tersangka, karena dia menjual solar bersubsidi kepada industri,” jelas dia.

Selain itu, Sholeh mengungkapkan solar subsidi yang digunakan untuk aktivitas penambangan tidak hanya disalahgunakan oleh kliennya saja.

“Ada lebih dari 10 penambang disitu, kenapa itu semuanya dibiarkan, kita bertanya-tanya, ada apa dengan pihak kepolisian kita, kenapa kok cukup klien kita? tentu kami sebagai kuasa hukum merasa ini diperlukan tidak adil, oleh karenanya kita gugat di Pengadilan Negeri Rembang,” kata dia.

Bahkan, Sholeh menyebut pihak kepolisian telah melakukan pelanggaran dalam menetapkan kliennya sebagai tersangka tindak pidana tersebut.

“Menurut kita melanggar peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019, dan KUHAP. Terus juga memang dinyatakan sudah melakukan gelar perkara, bagaimana bisa gelar perkara kalau saksi-saksi belum semuanya diperiksa, mestinya kan diperiksa semuanya dulu barulah gelar perkara,” ujar dia.

“Harapannya hakim tunggal nanti punya keberanian menyatakan bahwa proses penyidikan penetapan tersangka, penahanan ini tidak sah. Konsekuensinya kalau tidak sah, maka klien kita harus dikeluarkan dari tahanan,” imbuhnya.

Sementara itu Kapolres Rembang AKBP Dandy Ario Yustiawan saat dikonfirmasi wartawan mengatakan pihaknha belum mengetahui adanya gugatan praperadilan dari tersangka tersebut

“Mungkin dengan tindakan penegakan hukum yang kita lakukan dan upaya paksa dinilai mungkin salah atau mereka tidak puas ya itu memang jalurnya. Praperadilan , penangguhan penahanan dan lain lain itu hal yang biasa.”ungkapnya

Sebelumnya diberitakan Polres Rembang berhasil membekuk dua orang warga Kecamatan Sale, Rembang.

Warga Sale itu yakni S dan R karena ditengarai sebagai pelaku penyalah gunaan jual beli solar subsidi untuk kebutuhan area tambang.

“Peran masing-masing tersangka, tersangka S merupakan yang membeli solar dan tersangka R yang menggunakan solar (untuk aktivitas tambang),” terang Kasat reskrim Polres Rembang AKP Hery Dwi Utomo, Selasa (19/10/2021).

Dari penuturan Kasat Reskrim kepada media, pengungkapan kasus tersebut bermula ketika petugas melakukan penyelidikan di area tambang PT SSGM.

Penyelidikan itu sendiri mulanya dalam rangka menindak lanjuti laporan Direktur PT. SSGM yang mengaku adanya tindakan penyerobotan lahan tambang.

“Dengan adanya laporan tersebut, kami Satreskrim Polres Rembang beserta tim melaksanakan olah TKP di lokasi. Saat melakukan olah TKP, kami menjumpai ada pelaku tambang yang menggunakan solar bersubsidi padahal harusnya pelaku tambang itu menggunakan solar industri,” kata Hery.

Mengetahui hal tersebut, petugas pun menemukan pelanggaran pidana yang dilakukan oleh karyawan setempat.

“Pada saat itulah barang bukti dan juga pelakunya kami amankan di Mapolres Rembang,” lanjutnya.

Hery menambahkan penggunaan solar subsidi tersebut sudah berlangsung mulai dari bulan Juli hingga September 2021, perkiraan saat ini total solar subsidi yang digunakan sekitar 12 ribu liter.

“Untuk kedua tersangka tersebut sementara ini kami sangkakan Pasal 55 UU nomor 22 tentang migas yang diubah dengan UU nomor 11 Tahun 2020 tentang cipta kerja, untuk ancamannya minimal 3 tahun maksimal 10 tahun,” pungkasnya. (HMY)