SEMARANG,MEDIATAJAM.COM _ Menarik mencermati pembatalan pengumuman Cagub – Cawagub dari PDIP untuk daerah Jawa Tengah yang sedianya dilaksanakan tanggal 4 Januari 2018 di kantor DPP PDIP jalan Diponegoro Menteng Jakarta.
Memang berdasarkan agenda yang telah direncanakan, pengumunan Cagub-Cawagub yang disampaikan langsung oleh ketua umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri itu tidak hanya untuk wilayah Jateng, melainkan ada enam daerah, yakni; Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Lampung, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Papua. Namun sebagaimana diberitakan beberapa awak media pengumuman tersebut hanya untuk Pilgub Lampung,Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Sumut dan Papua, sementara untuk Cagub-Cawagub Jawa Tengah di tunda. Hal ini tentu memancing spekulasi yang beragam.
Khusus untuk Jawa Tengah, penundaan pengumuman tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan, pasalnya beberapa minggu terakhir dinamika politik di PDIP memang terlihat galau untuk memutuskan siapa cagub-cawagub yang bakal diusung pada pilgub Jateng 2018 yang akan datang.
Kegalaun PDIP untuk memutuskan Cagub-Cawagub Jateng tersebut diduga ada dua hal penting yang menjadi pertimbangan, mengingat Jateng dikenal sebagai “Kandang Banteng” yang menjadi barometer utama kekuatan PDIP untuk tingkat nasional. Bagi PDIP tentu kemenangan di Jateng menjadi harga mati buat PDIP, karena menyangkut perhelatan politik yang lebih besar pada 2019 mendatang dan menjadi taruhan gengsi politik harga diri Partai.
Dua pertimbangan PDIP tersebut; pertama) terseretnya nama Ganjar Pranowo yang juga masih menjabat Gubernur Jawa Tengah saat ini dalam sengkarut kasus EKTP. Memang sampai sejauh ini nama ganjar Pranowo masih sebatas hanya disebut-sebut oleh Nazaruddin dalam beberapa kali persidangan, bahkan Nazaruddin pernah mengaku melihat sendiri penyerahan uang kepada Ganjar Pranowo yang saat itu menjabat Wakil Ketua Komisi II DPR di ruang kerja anggota DPR Mustoko Weni pada persidangan 21 November 2017.
Namun munculnya nama Ganjar Pranowo itu diakui atau tidak jelas sangat berpengaruh dan menjadi pertimbangan DPP PDIP untuk memutuskan apakah Ganjar Pranowo kembali direkomendasikan untuk maju sebagai Cagub-Cawagub PDIP dalam Pilgub Jateng 2018 mendatang atau tidak.
Apalagi dalam beberapa minggu terakhir ini demo-demo meminta pengusutan tuntas kasus EKTP masif dilakukan beberapa elemen masyarakat di kantor KPK di Jakarta. Tidak menutup kemungkinan kasus EKTP dapat menggerus elektabilitas Ganjar Pranowo dalam beberapa bulan kedepan walaupun sampai sejauh ini Ganjar Pranowo masih dinilai elektabilitasnya yang tertinggi.
Kedua) Spekulasi yang lain terkait tertundanya pengumuman tersebut diduga munculnya dinamika politik di Jawa Tengah yang semakin hari semakin mulai panas. Yang menarik adalah munculnya nama mantan Bupati kebumen dua periode, dan mantan Wagub Jateng, Rustriningsih yang digadang-gadang bakal maju pada Pilgub Jateng 2018 mendatang mendampingi mantan menteri ESDM Sudirman Said yang resmi diusung PAN, Gerindra dan PKS.
Apalagi dalam minggu terakhir ini DPW PAN Jawa Tengah telah mengusulkan nama Rustriningsih yang nota bene mantan kader PDIP untuk mendampingi Sudirman Said. Nama Rustriningsih sampai sejauh ini diyakini masih kuat utamanya di Jawa Tengah bagian Tengah dan Selatan, mulai dari Banyumas hingga Purworejo, dan Banjarnegara hingga Temanggung.
Apalagi beberapa minggu terakhir setelah mencuatnya nama Rustriningsih banyak elemen pendukung dan loyalis Rustriningsih ramai-ramai mendatangi kediaman Rustriningsih baik yang ada di Kebumen maupuan di Semarang. Tercatat mereka yang datang diantaranya paguyuban Tani dan Nelayan Pantura, Para Kades dan mantan Kades di jateng Selatan, Gerakan Rakyat Marhaen, para pegiat sosial politik dari seantero Jawa Tengah, dsb.
Rustriningsih di yakini selain representasi politik bagi kaum perempuan, dia juga mewakili kelompok nasionalis religius bagi para pendukungnya. Rustriningsih dengan penampilan dan manuver politik yang santun dan keibuan telah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Jawa Tengah dan menjadi simbol budaya politik ala Jawa.
Beberapa karakter perilaku politik Rustri yang dinilai jauh lebih baik ketimbang calon-calon lainnya semakin diperhitungkan lawan setelah beberapa kelompok Santri juga mendukungnya, seperti Gus Solahuddin pengasuh Pesantren Al Hikmah Brebes yang beberapa hari lalu menyatakan mendukung Rustriningsih untuk Maju pada Pilgub Jateng 2018 yang akan datang.
Selain itu, sosok Rustriningsih juga selama mengemban jabatan sebagai Bupati kebumen dua periode dianggap berprestasi, rekam jejaknya bersih dan dekat dengan rakyat bawah. Rustri dinilai sosok ideal sebagai seorang pemimpin di Jawa Tengah apalagi karakter pemilih masyarakat Jawa Tengah pemilih Idiologis, kultural dan emosional.Sehingga peluang Rustriningsih menggaet pemilih sangatlah besar.
Dua analisa di atas kemungkinan besar yang menjadi faktor pertimbangan utama DPP PDIP untuk menunda keputusan Cagub-Cawagub Jateng tersebut. PDIP tak mau gegabah memutuskan siapa bakal Cagub-Cawagub yang akan diusungnya walaupun beresiko dianggap PDIP sedang galau dan ragu oleh publik Jawa Tengah.
Wallahu A’lam Bishawab.
Penulis : Arif Dwi Purnomo (Pemerhati Sosial Politik Jateng)


