Tajam News

Diskusi,Mewujudkan Kepemimpinan BERSIH Di Jawa Tengah

Ketua Fatayat NU Ambarawa Alfi Satiti tengah dalam diskusi 'Mewujudkan Pemerintahan Bersih Jawa Tengah

Semarang.Mediatajam.Com-Pemiihan Calon Gubernur dan wakil Gubernur(Pilgub) Jawa Tengah akan di gelar pada 2018 mendatang  dengan melibatkan 35 Kabupaten dan kota ,pemilihan kepala daerah (Pilkada )sejatinya adalah konsolidasi dan kontestasi demokrasi Proses politik dari rakyat ,oleh rakyat,dan untuk rakyat sebagai sarana sirkulasi kepemimpinan publik lima tahunan.

“Namun di sayangkan apa yang terjadi selama ini proses politik sistem demokrasi prosedural  pada kenyataanya sering mengalami pelemahan dan pembusukan sejak awal ,contohnya dari beberapa pengalaman pilkada di masa lalu dalam praktiknya proses rekrutasi calon sering di warnai proses politik transaksional baik berupa mony politik (politik uang)dan janji –janji palsu lainya.”ungkap Arief Dwi Purnomo  Koordinator Komunitas peduli kepemimpinan Bersih Jawa Tengah dalam Diskusi Publik dengan tema’Mewujudkan Pemerintahan Bersih Jawa Tengah’ di Semarang Rabu (06/12/17).

Menurut Arief ,Sebagai rakyat dalam kontek pilkada sering kali hanya di jadikan objek atau sarana pemenuhan ambisi elit-elit politik ,rakyat kata dia hanya di suguhkan tontonan calon-calon Gubernur yang di tentukan dari elit  pusat di Jakarta sehingga rakyat tidak ada pilihan selain harus memilih para calon Gubernur yang jauh dari kreteria yang di harapkan .

“kalau sudah demikian pemilu yang di idam-idamkan untuk dapat mewujudkan kepemimpinan yang mampu menciptakan harapan dan kebaikan berubah menjadi mala petaka akibat proses rekrotmen calon pemimpin yang sejak awal tereduksi dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek mengejar ambisi kekuasaan segelintir orang perorang .”ujarnya.

Untuk itu atas dasar keprihatinan dan kepedulianya maka Komunitas Peduli Kepemmpinan Bersih Jateng menyatakan sikap :(1).Meminta seluruh partai dan seluruh elemen Demokrasi di Jawa Tengah untuk bersama –sama mewujudkan pemimpin yang ideal bagi rakyat tanpa embel-embel politik transaksional dengan menerapkan sejak awal proses rekrutmen calon-calon Gubernur yang akan maju pada pilkada Juawa Tengah 2018 mendatang agar memenuhi prinsip-prinsip partisipasi masyarakt ,transparansi,integritas,prestasi ,dan rekam jejak yang baik guna terwujudnya kepemimpinan Bersih sesuai harapan dan kebaikan rakyat Jawa Tengah.

(2).Meminta seluruh partai politik dan seluruh elemen Demokrasi di Jawa Tengah dalam menentukan dan memilih calon Gubernur dan wakil Gubernur bukan di dasarkan semata-mata atas calon yang di suguhkan dari elit  pusat (Jakarta)melainkan lebih berdasarkan tingkat kedekatan sang kandidat dengan rakyat (basis konstituen )dan tau masalah serta cara mengatasi masalah yang terjadi di Jawa Tengah.

(3).Meminta seluruh partai politik dan seluruh elemen demokrai di Jawa Tengah tidak menetapkan calon Gubernur dan wakil Gubernur yangvterindikasi korupsi dan berperilaku Arogan .

(4). Meminta seluruh partai politik dan seluruh elemen Demokrasi di Jawa Tengah agar bersama-sama menyuguhkan calon-calon Gubernur yang punya pengalaman memimpin setingkat level Jawa Tengah .

(5).Komunitas Peduli Kepemimpinan Bersih Jawa Tengah mendorong agar partai politik dan seluruh elemen Demokrasi di Jawa Tengah memunculkan calon pemimpin perempuan yang berintegritas ,berpengalaman dan dekat dengan rakyat sebagai komitmen partai politik yang mewujudkan politik tanpa diskriminasi guna mewujudkan kepemimpinan bersih di Jawa Tengah.

Saementara itu,di tempat yang sama Ketua Fatayat NU Ambarawa Alfi Satiti mengatakan ,bahwasanya kaum muda Indonesia Kususnya Jawa tengah jangan pernah putus asa untuk terus ikut memperjuangkan nilai-nilai keadilan,nilai kebenaran,dan nilai-nilai kemanusian sehinga bisa mewujudkan kepemimpinan bersih dan berwibawa meskipun kata dia tantanganya sangat luar bisa .

“Bahwa hari ini  masyarakat punya logika politik sendiri sehingga di situlah justru kaum muda tertantang untuk terus menemukan cara,merebut posisi-posisi strategis di kepemimpinan supaya negara kita tidak melulu di pimpin oleh orang-orang yang tidah punya Visi terhadap terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.”jelasnya.

Untuk itu tambah Alfi,partai politik hari ini mau tidak mau harus mendengarkan apa yang di suarakan oleh masyarakat karena masyarakat saat ini sudah sangat pandai dan sangat cerdas untuk membuat pilihan –pilihan politik sehingga tidak lagi bisa terlalu banyak di bodohi.

Meski demikiaan Ia menyayangkan masih minimya keterlibatan bagi kaum perempuan yang ikut dalam Pemilukada sehingga hal tersebut masih menjadi PR  besar  bagi kaum Perempuan .

“Sebenarnaya regulasi di negara kita sudah sangat memberi ruang bagi keterlibatan kaum perempuan akantetapi bahwa PR terberat bagi perempuan Indonesia adalah terus memperbaikai kapasitas dirinya sehingga bisa layak untuk di pilih masyarakat  sehingga bisa menduduki tampuk-tampuk kepemimpinan di Negara kita.”pungkasnya.**Tomo