Tajam News

Jadi UMKM Binaan Bank Indonesia, Kopi “Bagor Mas” Desa Kalibagor Siap Mendunia

Kendal, MediaTajam.com – Memaknai filosofi kopi tidak terlepas adanya fenomena kekayaan alam untuk kemakmuran Warga yang terkandung di dalamnya.

Seperti halnya Desa Kalibogor, istilah bahasa jawanya sebenarnya Bagor atau Karung atau tempat atau juga Bokor dalam ilmu pewayangan, di Kecamatan Sukorejo kabupaten Kendal.

Menurut cerita turun menurun dari para leluhur disinilah Surga-Nya para petani. Diantaranya peternakan, perkebunan dan juga perikanan.

Warganya tidak serba kekurangan, menariknya lagi ada Karang di dataran tinggi disana.

Jika mengutip desa kalibogor seperti lagu Jawa yang fenomenal, “Ojo Turu Sore Kaki”

Ojo turu sore kaki ,Ono dewo nglanglang jagad, Nyangking bokor kencanane, Isine dungo tetulak, sandang kalawan pangan
Yoiku bagianipun, Wong melek, sabar, narimo

Bahwa setiap saat ada kesadaran yang hadir di dalam diri manusia.
Menyadari dengan setiap peran yang sedang berlaku padanya.

Kesadaran ini ibarat bokor atau bejana yang terbuat dari emas, berisi air bunga. Berisi sari-sari kesadaran yang mengharum dalam kemanusiaan.
Mengharum dalam kemanusiawian. Terlepaslah dari segala ketidaksadaran.
Dari keterlelapan, selalu dalam kesadaran, “Ojo turu sore kaki”.

Mainkan peran kemanusiawian dengan penuh kegembiraan.

Bekerja menghidupi keluarga, membantu sesama hidup, berkarya apapun yang mampu dilakukan, tentu dengan segala kemanusiawian yang kita punya.

Itulah bagian untuk setiap orang yang ‘melek sabar’, dan menerima. ‘Melek Sabar’ artinya menyadari setiap momen yang sedang terjadi pada dirinya dengan penuh perhatian.

Hal itulah yang disampaikan Taufiqul Mujab, Kepala Desa Kalibogor Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, saat dikunjungi MediaTajam.com di kediamannya, Rabu dini hari (27/10/2021).

Saat ini Kades yang akrab disapa Gus Mujab sedang berfikir keras untuk memajukan ekonomi desanya dengan mengolah dan memproduksi serbuk kopi.

Dari hasil pertanian kopi di desanya tersebut, dirinya juga ingin mengangkat kopi menjadi komoditi andalan Kabupaten Kendal.

Akhirnya, Gus Mujab pun membangun industri kopi bubuk di rumahnya. Dari mengolah biji kopi meracik hingga memberikan kemasan.

Namun karena keterbatasan alat produksi dimana saat ini baru ada mesin sangrai dan kemasan, sehingga untuk membuat serbuk kopi, para petani dan warga harus antri di rumahnya.

Menurut Gus Mujab disinilah peran para petani sebagai penghasil biji kopi hingga barista, sebagai peracik menjadi kunci penting di era ini.

Dari situlah, ia kemudian memproduksi kopi bubuk yang dimasukkan bungkus plastis tertutup dengan mesin kemasan plastik yang ia beri label “Bagor Mas”.

Kopi bubuk Bagor Mas memiliki tiga jenis, antara lain berasal dari kopi Arabika, kopi Robusta dan kopi Liberika.
Ketiga jenis kopi ini saat ini menjadi sajian minuman kopi untuk para tamu hotel, restoran dan cafe.

Usaha Gus Mujab pun tak sia-sia, Bank Indonesia (BI) pun merangkulnya sebagai UMKM Binaan.

“Saya pun mendapatkan bantuan berupa satu set mesin dari BI, untuk mengembangkan UMKM. Selain itu, Desa Kalibogor dijadikan desa perintisan dalam membangun industri kopi,” ujarnya.

Untuk itulah, Gus Mujab merangkul BUMDes yang digunakan sebagai payung hukum dalam membangun industri pengolahan kopi hasil dari pertanian kopi setempat dan memasarkan hasil kopi setempat.

“Selain itu, bertujuan untuk meng-kopikan masyarakat setempat yang biasanya mengkonsumsi kopi instan sasetan, juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Kini masyarakatpun mulai tertarik menikmati rasa dan aroma kopi asli dari para petani kopi Sukorejo,” imbuhnya.

Saat ini dalam memproduksi kopi bubuk kemasan, Gus Mujab baru bisa mencetak kemasan berisi 150 gram dan 1 kg kopi bubuk Bagor Mas.

Menurutnya, kemasan berisi 150 gram jenis kopi Arabika harga Rp. 30.000, kopi Liberika Rp. 25.000 dan kopi Robusta Rp.15.000

“Sedangkan untuk pemasarannya, kopi Bagor Mas dipasarkan melalui online maupun disebarluaskan di hotel-hotel dan cafe di sekitar Sukorejo dan sekitarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur BUMDes Bangkit Mandiri Desa Kalibogor, Toha mengatakan, saat ini produk kopi UMKM desanya sudah bermitra dengan beberapa kafe. Salah satunya adalah stok paten mitra dari Salatiga.

“BUMDes Bangkit Mandiri juga bernitra dengan para petani dalam hal produksi dan pengolahan bubuk KUB Petani kopi bangkit mandiri. Selain itu juga pengelolaan hasil pasca panen, yang berasnya disetor ke BUMDes,” terangnya.

Saat berada di kediaman Gus Mujab, mediaTajam.com megulas lebih dalam uniknya sosok kyai yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat adalah pilihan,katanya

Ini bagian dari ikhtiar untuk kemslahatan umat, pada prinsipnya ingin melayani dan berinovasi bersama warga untuk memakmurkan warga, pungkasnya.**Syf