REMBANG,Mediatajam.com – Pengusaha batik Lasem mengaku jika sejak tahun 2015 hingga 2018 pendapatan yang ia dapatkan menurun drastis.
Tak ayal penurunan tersebut dinilai dapat mengancam keberlangsungan usaha batik bisa mati suri bahkan bisa gulung tikar.
Ketua Cluster Kartini Rifai mengatakan, penurunan itu disebabkan karena perekonomian masyarakat menurun. Dan itu juga dirasakan dari semua segi sektor usana.
“Memang penurunan itu secara umum. Yakni sejak 2015 hingga sekarang. Bahkan kalau diprosentasi penurunan itu mencapai 25 persen,”katanya.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum tahun 2015, pihaknya bisa memperoleh pendapatan kotor sebesar Rp. 100 juta lebih setiap bulannya. Namun akhir akhir ini pendapatan kotor yang ia peroleh sebesar Rp. 70an juta hingga Rp. 75 jutaan.
“Kita mengetahui hal itu dari data dan koresponden Bank Indonesia (BI) cabang semarang. Sebab koresponden tersebut melaporkan perkembangan usahanya selama 3 bulan sekali. Sehingga hasilnya pun bisa kita ketahui,”bebernya.
Kemudian saat disinggung mengenai perkembangan yang ada, ia menjabarkan jika dari total 70 pengusaha batik yang tergabung cluster kartini ini masih tersisa sekitar 50 hingga 60 pengusaha batik.
“Kalau didata secara kasar, dari 70 anggota yang masih bertahan ya sekitar 50 sampai 50an orang. Sebab para pengusaha yang mati suri bahkan gulung tikar ada sekitaran 10 hingga 20an orang. Dan itupun rata rata para pemula batik,”ungkapnya.
Mati suri hingga gulung tikarnya pengusaha pemula tersebut lantaran kurangnya pemasaran, maupun inovasi dan kreativitas penhusaha.
“Kita akui yang matu suri bahkan gulung tikar itu yakni para pemula. Sebab mereka belum punya pangsa pasar, serta inovasi bahkan SDM untuk mengembangkan usaha juga minim. Sehingga tak jarang dari produk yang mereka buat juga kita tampung untuk bisa sama sama kita pasarkan,” paparnya .(Hasan Yahya)




