Tajam News

Pembangunan Pasar Rakyat Wonekerto Tak Kunjung Selesai Warga Sale Kecewa

REMBANG ,Mediatajam. Com_Sejumlah pedagang pasar Krempyeng Wonokerto Kecamatan Sale berpikir dua kali bila diminta segera pindah ke pasar Raktay desa setempat. Pasalnya, pasar krempyeng yang berada di tepi jalan raya Jatirogo Lasem itu bisa mendatangkan pendapatan jutaan rupiah tiap harinya.
Asih salah satu pedagang pasar Krempyeng menjelaskan pihaknya masih berpikir dua kali jika dipindah oleh pihak desa maupun instansi terkait.

“Tentunya masih enak di sini. Sebab di sini dekat jalan raya dan ramai saat subuh pagi,”katanya.

Keengganan perpindahan pedagang tersebut lantaran belum tahu kondisi pasar rakyat Wonokerto yang saat ini masih dalam proses pembangunan

“Kita belum tahu kondisinya. Selain itu, kita berdagang di sini juga sudah nyaman. Terlebih bisa menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp. 2 juta per hari,”ungkapnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan rata rata pedagang pasar Krempyeng menjajakan barang berupa sembako, jajan pasar secara grosir

“Meskipun pasar ini sejak ada dua tahun lalu, namun rata rata 40 pedagang di sini bisa nyaman,”ucapnya

Sementara itu, pedagang lainnya Warti mengungkapkan, pasar ini berjalan mulai Subuh hingga sekitar jam 10.00 WIB.

“Rata rata ramainya jam habis Subuh. Sebab pedagang ini memang menjajakan secara grosir. Baik itu grosir jajan pasar, kebutuhan rumah tangga dan lainnya,”urainya.

“Untuk retribusi memang tak ada. Namun tiap harinya kita membayar Rp. 1.000 per hari untuk kebersihan untuk satu kotak atau satu wilayah jualan dengan lebar 2×3 meter,”terangnya
Menurut informasi warga, pasar tersebut bakal dijadikan pasar Induk kecamatan Sale. Namun hingga saat ini kondisi tersebut masih banyak yang semrawut dan tidak layak pakai.
Salah satu warga Sale yang akan mendaftar sebagai pedagang Sunaryo mengungkapkan rasa kekecewaannya lantaran kondisi pasar masih semrawut.

“Harapannya warga cepat jadi. Biar warga ada kemajuan ekonomi. Namun kondisinya belum jadi. Dahulu janjinya atau katanya Desember 2017 sudah buka atau jadi. Akan tetapi Pebruari kok belum jadi. Inikan repot,”katanya.

Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan bahwa pasar Rakyat Wonokerto Sale ini tidak cocok bagi warga. Mengingat di dalam pasar lebih banyak kios untuk pasar basah

“Kios untuk baju, atau barang kering malah sedikit dan sempit. Bangunannya tak cocok, kayak pasar daging. Sebab di pasar ini malah banyak tempat kios penjualan daging ikan, sayur.

Bahkan ada ratusan kios dagingnya ketimbang kios pakaiannya,”urainya.
Sementra itu, warga Terongan Sale yang juga akan mendaftar sebagai pedagang Tarmani mengungkalkan bahwa hingga saat ini pihak warga masih kebingungan.

“Memang kita ingin berjualan. Namun rata rata warga masih bingung mendaftar dengan siapa, sama pihak mana. Kayaknya kok pasar ini semrawut sekali,”ujarnya.

“Bisa jadi belum adanya sosialusasi pasar ini lantaran masih semrawutnya pasar ini. Sehingga pemerintah atau pihak terkiat malu. Selain itu, para pekerjanya juga irang luar semua,”ucapnya.**Hasan Yahya