REMBANG,MEDIATAJAM.COM _ Agama bertujuan untuk kemaslahatan umat,bukan untuk kesengsaraan umat, apalagi memecah belah umat. Jadi jangan menggunakan atas nama agama untuk tujuan tertentu terlebih untuk kepentingan kekuasaan atau politik tertentu, yang lebih parah lagi dengan menggunakan atas nama Tuhan untuk memecah belah atau menghancurkan kelompok tertentu.
Demikian disampaikan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jendral (Pol) Tito Karnavian saat memberikan sambutan pada acara kunjungan kerja Safari Ramadhan di Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin,Leteh,Rembang, Selasa (6/6) sore.
Dalam kunjungan kerja Safari Ramadhan ini Kapolri yang didampingi Kapolda Jateng Irjen (Pol) Condro Kirono dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang disambut pengasuh ponpes KH Mustafa Bisri ( Gus Mus) disusul kiai sepuh KH Maemun Zubair pengasuh ponpes A Anwar Sarang.
Jenderal Tito menambahkan, jika dirinya sangat beruntung bisa bertemu dengan dua kiai kharismatik yang namanya tidak diragukan di kalangan Nahdlatul Ulama di tingkat nasional. Kondisi negara saat ini kata Kapolri, bukan semata menjadi tugas Polri dan TNI tetapi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peran para ulama yang suaranya didengar umat (nahdliyin).
Demokrasi yang bangkit setelah tumbangnya orde baru,bukan berarti tidak membawa dampak negatif. Belakangan mulai muncul ideologi-ideologi yang mengarah ke liberal dan hal itu tidak cocok dengan budaya serta iklim Indonesia,Pancasila mulai diserang dan ujungnya NKRI terancam.
“Saya sangat kagum dengan sosok Gus Mus yang begitu sejuk juga ramah, juga simbah Maemun Zubair yang fatwanya untuk kepentingan bangsa dan negara serta sumbang sih beliau tentu sangat kami nantikan,” kata Kapolri.
Pada bagian lain Jenderal Tito kembali mengungkapkan, jika sekarang ini kembali marak primordial suku seperti yang terjadi di Lampung, antara penduduk asli dan pendatang,juga primordialisme agama yang bukan hanya sangat sensitif memecah antar agama tetapi juga sesama agama,juga kasus di Tanjung Balai sebagai bukti kemunculan primordialisme Ras.
Sementara itu pengasuh Pondok Pesantrean Al Anwar KH Maemun Zubair dalam sambutannya meminta kepada seluruh elemen bangsa untuk kembali membuka lembaran lama sejarah perjuangan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan ini.
“ Sebagai negara demokrasi perbedaan adalah sesuatu yang wajar,tetapi jangan sampai mengarah ke perpecahan apalagi mengancam NKRI. Kita tentu malu dengan para pendiri republik ini kalau umat tidak lagi menjaga keutuhan bangsa dan negara,ibarat pepatah jawa “ngono ya ngono ananging yo ojo ngana,” kata kiai sepuh Maimun Zubair.
Sementara sohibul bait acara KH Mustofa Bisri hanya memberi ucapan selamat atas kehadiran Kapolri. Dalam acara tersebut diserahkan cindera mata kepada KH Mustofa Bisri, KH Maemun Zubair serta sepupuh ponpes yang ada di Rembang yang diserahkan langsung oleh Kapolri.**Hasan Yahya


