Peristiwa

Tawur Nasi, Tradisi Unik Sedekah Bumi Desa Palemsari

REMBANG ,MediaTajam. Com_Dalam rangka sedekah bumi bertepatan dengan panen raya padi ratusan pemuda Desa Pelemsari, Kecamatan Sumber menggelar tradisi rutin tawuran memakai nasi, Rabu (16/8/2017).

Kepala Desa Pelemsari Kecamatan Sumber Surinto mengatakan tradisi tawuran nasi yang dilaksanakan bertepatan dengan sdekah bumi secara rutin sejak puluhan tahun silam ini diambil dari weton desa yang bertepatan dengan pasaran Pon.

Sedangkan hari Rabunya yakni bertepatan dengan weton kepala desa (saya) ini.Untuk nasinya tentu dari ribuan warga. Sehingga nasi itu terkumpul dan dibuat acara
sedekah bumi ini. Namun sebelum acara dimulai, kita berziarah terlebih dahulu di makam Mbah Nyah sesepuh desa ini.” ungkapnya.

Dia menambahkan untuk hari penyelenggaraanya itu tergantung dari hari weton kepala desa. Sebelum saya menjabat, acara ini dilakukan pada hari Senin Pon. Yakni hari Senin wetonnya kepala desa. Dan Ponnya itu hari wetonnya desa. Yang penting di pasaran Pon. Masalah harinya itu tergantung dari hari wetonnya kepala desa yang menjabat,

“Sebagian warga Desa Pelemsari, Kecamatan Sumber mempercayai bekas nasi yang dibuat sedekah bumi tawuran nasi tersebut dapat mengusir hama tikus setelah acara ini selesai, warga akan mengambil bekas bekas nasi meskipun sudah kotor, bercampur tanah, maupun bebatuan kecil kemudian nasi tersebut dijemur hingga kering dan disimpan. Di mana saat musim tanam tiba, nasi yang sudah dijemur tersebut akan disebar di sawah untuk mengusir berbagai hama.

Saat ditanya mengenai sejarah tawuran nasi tersebut ia tak menjelaskan secara gamblang. Hanya saja acara adat tersebut dilakukan sebagai rasa syukur setelah adanya panen raya.

“Acara ini merupakan bentuk rasa syukur terhadap tuhan. Sebab sudah memberikan hasil panen yang baik, kesehatan bagi warga desa dan lainnya,” ujarnya.

Sementara itu salah satu warga sekaligus peserta tawuran nasi Sulkan mengatakan, acara ini merupakan warisan dari leluhur sejak dulu kala.

“Al Hamdulillah saat ini bisa dilakukan oleh masyarakat dengan baik. Sehingga adat istiadat ini bisa terus dilakukan dengan baik,” ucapnya.

Dia manambahkan, saat acara belum mulai, pihak keluarga mengumpulkan sebanyak 15 bungkus nasi

.”Tadi membawa 15an bungkus nasi. Setelah itu didoakan oleh perangkat desa, tokoh. Setelah itu acara tawuran ini dimulai.

Meski sakit saat dilempar pakai nasi, namun itu bisa membuat kerukunan, kebersamaan warga dan tidak ada dendam sama sekali seusai acara ini,” terangnya.**Hasan Yahya